Sleman – Sebagai langkah awal dalam memastikan proyek infrastruktur yang didanai dari Bantuan Keuangan Khusus (BKK) benar-benar tepat sasaran dan mendapat dukungan penuh dari masyarakat, Pemerintah Kalurahan Banyuraden bersama DPRD Kabupaten Sleman menggelar sosialisasi pekerjaan pengaspalan jalan di wilayah Dusun Banyumeneng, Kapanewon Gamping, Kabupaten Slenan, Rabu (25/6/2025).
Bagi warga, pertemuan ini menjadi ruang diskusi terbuka, tempat mereka mendapatkan informasi rinci mengenai rencana pekerjaan jalan yang akan segera dikerjakan. Mulai dari titik-titik lokasi perbaikan, volume pekerjaan, hingga jadwal pelaksanaan, semua dijelaskan secara gamblang. Sehingga, warga tidak hanya menjadi penonton, tetapi turut merasa memiliki dan bertanggung jawab terhadap keberlangsungan proyek.
Carik Banyuraden, Hendy Indra Utama dalam sambutannya mengatakan bahwa pemeliharaan jalan merupakan aspek krusial dalam menunjang kehidupan sosial ekonomi masyarakat padukuhan. Jalan yang baik akan mempermudah akses ke fasilitas umum seperti sekolah, pasar, dan layanan kesehatan.
Di sisi lain, jalan rusak kerap menjadi sumber keluhan, bahkan potensi kecelakaan. Itulah mengapa kegiatan seperti ini penting agar masyarakat memahami bahwa proses perbaikan infrastruktur tidak bisa instan, namun harus melalui perencanaan matang dan pelibatan publik.
Melalui sosialisasi ini, warga juga diberi kesempatan menyampaikan aspirasi dan masukan terkait kondisi riil jalan di masing-masing lingkungan. Forum ini menjadi media interaktif untuk menyamakan persepsi antara tim teknis dan masyarakat pengguna langsung.
“Dengan informasi yang disampaikan secara terbuka, warga menjadi bagian dari proses pembangunan, bukan hanya sebagai penerima manfaat,” ujar Hendy.
Lebih lanjut, Anggota Badan Pembentukan Peraturan Daerah DPRD Kabupaten Sleman, H. Suryana mengungkapkan bahwa kegiatan ini sekaligus menjadi contoh nyata transparansi pemerintah kalurahan dalam mengelola dana publik. Dana BKK yang dialokasikan untuk pengaspalan dijelaskan secara rinci berapa besar anggarannya, siapa pelaksana teknisnya, hingga perkiraan waktu pelaksanaan dan dampaknya terhadap lalu lintas harian warga.
“Transparansi ini meminimalisasi potensi kesalahpahaman di kemudian hari,” tandasnya.
Tak hanya soal teknis proyek, pertemuan malam itu juga menegaskan pentingnya nilai-nilai gotong royong dalam pembangunan desa. Dimas Alfandi Saputra selaku Dukuh Banyumeneng mengajak warganya untuk mendukung proyek ini dengan ikut mengawasi prosesnya, menjaga lingkungan sekitar lokasi pekerjaan, dan menghindari aktivitas yang dapat menghambat pekerjaan di lapangan.
Sosialisasi ini menjadi bukti bahwa pembangunan yang berpihak pada rakyat tidak bisa berjalan sendiri. Namun harus disertai komunikasi yang baik, partisipasi yang aktif, dan niat bersama untuk menciptakan kemajuan wilayah. Tanpa sosialisasi yang inklusif, proyek pengaspalan bisa kehilangan arah dan makna kolektifnya.
Dengan semangat kebersamaan yang terbangun dalam sosialisasi ini, pengaspalan jalan di Dusun Banyumeneng tak lagi hanya dipahami sebagai kerja fisik semata, melainkan sebagai wujud dari cita-cita warga untuk menciptakan konektivitas, keamanan, dan kemajuan bersama. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)


