Membatik dengan Kaki, Ketekunan dalam Keterbatasan

Sleman – Keterbatasan fisik tidak menjadi penghalang bagi Trimah untuk berkarya. Perempuan asal Magelang yang sejak lahir tidak memiliki lengan ini justru mampu menghasilkan karya batik indah dengan menggunakan kakinya. Karya-karyanya ia beri nama Batik Samparan, yang diambil dari kata dalam bahasa Jawa “samparan” yang berarti kaki.

Ketika ditemui di kediamannya di Dusun Minomartani, Kapanewon Ngaglik, Sleman, pada Selasa (1/7/2025), Trimah tengah asyik mencanting di ruang tamu yang juga menjadi ruang kerjanya. Dengan gerakan kaki yang cekatan, ia menyalakan kompor, menciduk malam panas, lalu menggoreskannya ke atas kain dengan ketelitian yang tak kalah dengan tangan para pembatik profesional.

“Saya mulai belajar membatik karena dorongan dari ibu. Ia ingin saya punya keterampilan untuk masa depan,” ujar Trimah.

Berbekal ketekunan dan naluri seni, Trimah memutuskan untuk tidak mengikuti pola atau pakem batik yang telah ada. Ia memilih mencipta bentuk-bentuk dari hati, berupa garis, titik, dan lengkung yang lahir dari intuisi, bukan dari aturan baku.

“Saya takut merusak pakem. Jadi saya ciptakan motif sendiri. Apa yang saya rasakan, itu yang saya tuangkan,” jelasnya.

Kini, karya Batik Samparan buatan Trimah tak hanya dipesan dalam bentuk kain, tetapi juga sebagai hiasan dinding dalam bingkai. Karyanya menjadi simbol semangat, ketekunan, dan harapan.

Selain berkarya, Trimah juga menjalani peran sebagai ibu. Ia memiliki seorang anak laki-laki yang kini berusia lima tahun. Meski menjalani kehidupan dengan kondisi fisik yang berbeda, Trimah tetap mampu menjalani tugas sebagai orang tua dengan penuh cinta dan kemandirian.

“Anak saya aktif sekali. Tapi saya tetap ingin dia bangga punya ibu seperti saya,” ungkapnya tersenyum.

Kisah Trimah bukan hanya tentang batik atau keterampilan, melainkan tentang semangat untuk terus melangkah, bahkan saat orang lain meragukannya. Dengan kedua kaki yang menjadi pengganti tangan, Trimah menggambar bukan sekadar motif, tetapi juga harapan dan keberanian. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)

image_pdfimage_print
Bagikan: