Sleman – Di era serba visual saat ini, peran desainer grafis semakin vital dalam menyampaikan pesan, membangun citra, dan memperkuat identitas. Muhammad Faruqi Abdurrasyid, desainer grafis yang menetap di kompleks Yadara, Babarsari, Caturtunggal, Depok, Sleman menjadi salah satu anak muda yang menapak jalan dengan karya-karya bermutu hingga menembus pasar luar negeri.
Sejak remaja, Faruqi menunjukkan ketertarikan pada dunia visual. Ia mengawali perjalanannya dari hobi menggambar di bangku SMA, lalu memperdalam secara mandiri melalui platform Abduzeedo dan Pinterest. Kecintaan itu mengasah kemampuan profesionalnya di berbagai desain, dari ilustrasi, tipografi, hingga identitas visual dan branding.
Deretan karya Faruqi tersebar di berbagai sektor. Ia merancang logo Milad ke-111 Muhammadiyah, logo Musyawarah Wilayah (Musywil) ke-13 PWM DIY, serta desain institusional SMP Muhammadiyah 3 Depok Sleman.
Faruqi juga dipercaya menangani identitas visual penerbit Masa Kini Yogyakarta dan Pusat Studi Muhammadiyah (PSM), hingga desain maskot brand UMKM yang telah dikenal secara nasional. Tak hanya itu, portofolionya mencakup klien internasional dari Asia dan Timur Tengah, terutama dalam desain logo dan konten digital.
“Setiap desain harus punya jiwa dan konteks. Saya selalu mulai dengan riset, siapa kliennya, apa pesannya, siapa audiensnya. Dari situ saya mencari bentuk visual yang paling tepat,” ungkap Faruqi saat ditemui, Rabu (2/7/2025).
Ia menekankan bahwa desain grafis bukan sekadar seni, tetapi medium komunikasi yang menyatu dengan strategi. Dalam menjalani proses kreatifnya, Faruqi mengakui bahwa tantangan terbesar justru datang dari kejenuhan akibat aktivitas berulang atau art block.
Untuk itu, ia kerap menjauh sejenak dari layar, membuat sketsa bebas, hingga bermain game demi memantik ide segar.
“Kreativitas perlu ruang dan waktu untuk tumbuh. Desainer yang baik bukan soal skill, tapi cara menjaga semangatnya tetap hidup,” ujarnya.
Dengan prinsip konsistensi dan keberanian bereksplorasi, Faruqi berhasil memantapkan posisinya sebagai desainer grafis profesional yang tidak hanya adaptif terhadap tren global, tetapi juga kuat dalam identitas lokal.
Ia menjadi contoh bagaimana anak muda Indonesia bisa bersaing di industri kreatif dunia dengan tetap membawa karakter dan nilai dari tanah kelahirannya.
“Karya yang baik bukan yang rumit, tapi yang paling tepat. Desain harus menjawab kebutuhan, bukan sekadar memukau,” pungkasnya.
Kiprah Faruqi menjadi bukti bahwa potensi ekonomi kreatif Indonesia sangat besar jika ditopang oleh SDM yang berdedikasi, berjejaring, dan terus belajar. Ia adalah salah satu wajah industri desain grafis Indonesia masa kini, yang tumbuh dari proses, bertahan karena prinsip, dan melesat karena karya. (Athiful/KIM Depok)


