Sleman — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman menggelar Focus Group Discussion (FGD) yang berlangsung selama dua hari (3 dan 4 Juli 2025) untuk seluruh Kalurahan se-Kabupaten Sleman. Kegiatan ini bertujuan untuk menyusun dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) melalui pengisian data menggunakan aplikasi InaRISK Personal.
Acara yang berlangsung di Ruang Rapat Praja 1 Setda Kabupaten Sleman ini dihadiri oleh perwakilan dari setiap kalurahan yang membidangi kebencanaan. Masing-masing peserta dibekali dengan peta wilayah kalurahannya untuk memetakan potensi bencana secara mandiri.
Perwakilan BPBD Sleman, Hendri dalam sambutannya menekankan bahwa dokumen KRB perlu diperbarui setiap lima tahun.
“Dalam rentang waktu lima tahun, potensi bencana dan kondisi wilayah bisa berubah, sehingga pembaruan data menjadi sangat penting,” ujar Hendri.
Sementara itu, perwakilan Geo Art Science (GAS), Galih selaku fasilitator menjelaskan bahwa penggunaan aplikasi InaRISK Personal merupakan upaya untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.
“Melalui aplikasi ini, masyarakat bisa lebih aktif dalam mengidentifikasi potensi bencana di wilayahnya, dan dokumen KRB menjadi lebih berbasis data dan partisipatif,” paparnya.
Melalui FGD ini, diharapkan indeks kesiapsiagaan masyarakat Kabupaten Sleman dalam menghadapi bencana dapat terus meningkat, seiring dengan pemahaman dan keterlibatan aktif masyarakat dalam mitigasi risiko bencana. (ESK – KIM DSN Ngaglik)


