Sofa Bambu Desa Margoagung Berusaha Rebut Kembali Pasar Ekspor

Sleman – Desa Margoagung, Kapanewon Seyegan sejak dahulu dikenal sebagai sentra kerajinan bambu. Di mana, produk utama desa ini adalah “lincak” bambu atau amben yang khas melekat dengan budaya Jawa.

Salah satu pelaku bisnis bambu di desa ini, Marzuni menuturkan bahwa kini jumlah pengrajin bambu di desanya sekitar 30 orang. Sementara, ia sendiri lebih dari 15 tahun bertahan menekuni profesi tersebut.

“Pengrajin bambu kini tinggal sekitar 30 orang saja, padahal dahulu lebih dari 100 orang pengrajin. Masalah utama adalah regenerasi pengrajin. Anak-anak sekarang, kurang minatnya menjadi pengrajin bambu,” ungkapnya saat ditemui di workshopnya, Kamis (3/7/2025).

Marzuni menuturkan bahwa usai merantau, ia melanjutkan profesi kakek dan ayahnya. Ia melihat bambu masih memiliki nilai ekonomi yang tinggi bila tidak sekedar dibuat lincak.

Ia kemudian mengembangkan furni-craft bambu dengan berbagai corak dan desain yang lebih disukai pasar. “Tapi saya tidak masuk ke produksi lincak tradisional, saya tidak mau mengganggu pasar pengrajin yang sudah ada,” katanya.

Untuk itu, produk utama Marzuni ialah sofa bambu. Sebelum covid-19, produk andalannya ini sangat disukai pasar luar negeri. Sofa bambu buatannya rutin dipesan dari luar negeri. Namun kehadiran wabah tersebut memukul usahanya, ekspor menurun tajam.

Ia masih berharap pasar luar negeri akan kembali bangkit. Hal itu yang mendorong Marzuni bertahan dengan lima orang karyawannya. Selain itu, Marzuni pun bekerja sama dengan perguruan tinggi untuk mengembangkan inovasi dan desain kreatif untuk produk bambunya.

 Ia pun berharap agar pasokan bambu di daerah tersebut tetap terjaga. Untuk itu, pelestarian tanaman bambu di desa-desa harus tetap digalakkan. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)

image_pdfimage_print
Bagikan: