Sleman – Anggota DPRD Kabupaten Sleman bersama Dinas Lingkungan Hidup (DLH) memberikan pendampingan kepada Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM) yang menerima bantuan sarpras kendaraan roda tiga, Rabu (9/7/2025). Kegiatan yang berlangsung di Padukuhan Kandangan ini, diikuti oleh 23 peserta dari unsur Bank Sampah, KWT, PKK dan Kelompok Tani.
Tidak hanya penyerahan bantuan, acara itu juga diisi dengan sesi diskusi antar peserta. Mereka bersama-sama membahas permasalahan sampah yang ada di Grajegan.
Salah satu anggota DPRD Kabupaten Sleman, Sukamto menyampaikan bahwa hibah sarpras yang diberikan kepada Kelompok Bank Sampah Berseri Padukuhan Grajegan harus dimanfaatkan secara optimal. Ia menjelaskan bahwa bantuan tersebut bersifat stimulan guna mendorong swadaya masyarakat.
“Bantuan ini sifatnya stimulan, masyarakat tetap diharapkan swadayanya. Kalau hanya mengandalkan bantuan terus, lembaganya justru akan mati karena tidak berdaya,” kata Sukamto.
Terlebih Grajegan merupakan rintisan desa wisata yang berbasis pertanian. Peran lembaga pendukung seperti bank sampah, KWT dan kelompok tani sangat diharapkan.
Perwakilan DLH Kabupaten Sleman, Yusuf pada kesempatan yang sama memberi gambaran terkait kondisi sampah di Sleman saat ini. Ia menjelaskan bahwa produksi sampah di Sleman setiap harinya mencapai 700 ton. Di mana, setiap individu menghasilkan 0,52 kilogram sampah per harinya. Untuk itu, peran KPSM di tengah masyarakat sangat diperlukan dalam mereduksi timbulan sampah.
“Sleman telah mempunyai Surat Edaran yaitu SE Nomor 030 tahun 2022 tentang Pilah Sampah dari Rumah. Untuk itu mari pilah sampah dari rumah dijadikan gerakan yang masif di masyarakat,” tutur Yusuf.
Terkait hal itu, salah satu Praktisi Sampah Seyegan, Sutarto Agus menyampaikan bahwa tiga TPST yang dimiliki Sleman yaitu di Kalasan, Minggir, dan Turi, hanya mampu menampung 400 ton sampah per hari. Sementara, 300 ton sisanya tidak dapat dikelola. Dengan demikian, dibutuhkan peran KPSM dalam mengelola sampah rumah tangga.
“Sampah organik harus selesai di sumbernya yaitu rumah tangga. Sedangkan sampah anorganik bisa dikelola masyarakat melalui bank sampah ataupun sedekah sampah,” jelas Sutarto.
Sejauh ini, Padukuhan Grajegan memiliki 35 nasabah bank sampah di tingkat RW. Namun secara keseluruhan, kesadaran masyarakat untuk bergabung menjadi nasabah sampah masih kurang.
“Perlu kegiatan inovasi dalam pengelolaan sampah, sehingga masyarakat menjadi tertarik untuk bergabung di bank sampah,” usul Sutarto dihadapan pengurus.
Padukuhan Grajegan juga termasuk bank sampah di wilayah Seyegan yang mempunyai sarpras lengkap. Pasalnya, Paukuhan Grajegan sudah dilengkapi dengan Rumah Pilah Sampah, fasilitas komposter skala rumah tangga, kompartemen, gerobak dan tong sampah. Selain itu, pada tahun ini Grajegan juga mewakili Kapanewon Seyegan dalam lomba evaluasi kampung hijau. Hal itu menunjukkan sosialisasi dan pendampingan sudah dilakukan di wilayah tersebut.
“Pengelolaan sampah organik dengan biopot dan losida bisa dilakukan di Grajegan sebagai bagian edukasi ke masyarakat yang tidak mempunyai lahan,” ungkap Sutarto. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)


