Menjaga Tradisi, Mengawal Ulama: Kiprah Banser di Kampung Santri Mlangi

Sleman – Sebagai garda terdepan dalam pengamanan para Kyai, Barisan Ansor Serbaguna (Banser) menunjukkan kesiapsiagaan penuh sejak persiapan hingga penutupan acara seperti yang terlihat di kawasan Masjid Pathok Negoro Mlangi, Gamping, Sleman, Kamis (10/7/2025). Puluhan Banser dari Satuan Koordinasi Rayon (Satkoryon) Kapanewon Gamping melakukan pengamanan acara Haul Mbah Kyai Nur Iman Mlangi atau Bendoro Pangeran Haryo Sandiyo putra dari Sri Sultan Amangkurat IV dari Kerajaan Mataram.

Pasukan Banser tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga memastikan setiap rangkaian kegiatan berjalan tertib dan kondusif. Mereka juga mengatur arus lalu lintas kendaraan agar tidak menimbulkan kemacetan. Kemudian membantu para peziarah yang kesulitan mencari jalan, serta mengawal para tokoh agama yang hadir.

“Dengan kerja sama yang terkoordinasi bersama aparat keamanan dan panitia, Banser mampu menciptakan suasana yang aman dan tertib, menjadikan haul sebagai ruang ibadah yang penuh khidmat,” ujar Kepala Satkoryon Gamping, Munif Hasyim di sela-sela tugasnya.

Ketua Gerakan Pemuda Ansor Kapanewon Gamping, Muhammad Firdaus mengatakan bahwa semangat khidmah yang ditunjukkan Banser dalam haul ini mencerminkan nilai-nilai ke-Nahdlatul Ulama-an yang menjunjung tinggi pengabdian kepada ulama dan masyarakat. Tugas yang diemban dijalankan dengan keikhlasan dan rasa tanggung jawab, sekaligus menjadi teladan bahwa menjaga acara keagamaan merupakan bagian dari ibadah dan loyalitas terhadap tradisi keislaman.

Menurutnya, melalui peran aktif dan totalitas pengabdiannya, Banser membuktikan bahwa kesuksesan sebuah acara besar seperti haul tidak hanya ditentukan oleh kemegahan acara, tetapi juga oleh kerja-kerja sunyi di balik layar. Tanpa kehadiran Banser, pengajian akbar tersebut mungkin tidak akan berjalan kondusif seperti yang dirasakan para jama’ah.

Sementara itu, Haul ke-36 ini bukan hanya mengenang sosok Mbah Kyai Nur Iman sebagai ulama besar, melainkan menjadi momentum konsolidasi spiritual dan sosial warga Nahdlatul Ulama. Banser hadir sebagai perekat keamanan dan ketertiban yang menjadi bukti nyata bahwa pengabdian tak harus dalam ceramah, tetapi bisa lewat aksi nyata menjaga ketenteraman umat.

“Bagi Banser, tugas ini bukan sekadar kerja lapangan, melainkan bentuk khidmah kepada ulama, bangsa, dan agama,” tandas Firdaus.

Di sela-sela kesibukan pengamanan, para anggota Banser pun menyimak Mau’idhoh Hasanah dan membaca doa-doa haul. Mereka menjaga dengan fisik, tetapi juga hadir secara spiritual. Inilah wajah Banser yang gagah di medan tugas, dan khusyu’ dalam doa.

Banyak yang menyempatkan diri bersalaman dan mengucapkan terima kasih atas dedikasi mereka. Tak sedikit jama’ah yang menyebut kehadiran Banser sebagai bagian tak terpisahkan dari suksesnya pengajian akbar tersebut. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)

image_pdfimage_print
Bagikan: