Puskesmas Indonesia Jadi Rujukan Studi Global Mahasiswa Australia

Sleman — Sistem pelayanan kesehatan primer Indonesia kembali menorehkan prestasi di kancah global. Kali ini, Puskesmas Ngaglik 1 di Sleman, DIY, menjadi lokasi kunjungan peserta Public Health Study Tour dari Australian Consortium for ‘In-Country’ Indonesian Studies (ACICIS), Rabu (16/7/2025). Kunjungan ini menegaskan bahwa model Puskesmas di Indonesia kini menjadi rujukan studi internasional dalam bidang kesehatan masyarakat.

Puluhan mahasiswa dari berbagai universitas ternama di Australia hadir untuk mempelajari langsung sistem dan implementasi layanan kesehatan berbasis komunitas yang dijalankan oleh Puskesmas Ngaglik 1. Mereka disambut oleh Kepala Puskesmas, dr. Novi Eko Winarsih Hartono, beserta tim, yang memperkenalkan berbagai inovasi dan praktik unggulan dalam pelayanan kesehatan primer.

“Kunjungan ini adalah kehormatan sekaligus momentum strategis untuk menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan dari level dasar di Indonesia mampu menarik perhatian dunia. Ini adalah bentuk nyata diplomasi kesehatan Indonesia,” ujar dr. Novi.

Para peserta ACICIS terlibat dalam sesi presentasi dan diskusi mendalam, di mana mereka mempelajari layanan kesehatan ibu dan anak, imunisasi, pengendalian penyakit menular, konseling gizi, hingga program kesehatan remaja. Mereka juga meninjau langsung fasilitas serta menyaksikan praktik pelayanan yang humanistik dan partisipatif.

Salah satu peserta, Ruby dari University of Western Australia, mengungkapkan kekagumannya. “Saya sangat terinspirasi oleh bagaimana Puskesmas ini menjalin hubungan personal dan empatik dengan masyarakat. Ini menjadi pelajaran penting tentang pendekatan kesehatan yang berakar dari komunitas,” ujarnya.

Selain mengunjungi Puskesmas, rombongan ACICIS juga diajak melihat praktik lapangan pelayanan kesehatan melalui kunjungan ke Posyandu Marsudi Waras di Kalurahan Sinduharjo. Di sana, mereka mengamati kegiatan layanan posyandu Integrasi layanan primer (ILP), yang menjadi model kolaborasi antara tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Kegiatan ini bukan sekadar studi lapangan, namun menjadi ruang pertukaran gagasan antara mahasiswa asing dan tenaga kesehatan lokal. Diskusi mengenai perbandingan sistem kesehatan antarnegara pun menjadi bagian penting dari pengalaman belajar mereka.

dr. Novi menegaskan bahwa pihaknya terbuka untuk kolaborasi yang lebih luas. “Kami berharap kunjungan ini membuka jalan untuk kerja sama riset internasional dan pertukaran pengetahuan yang bermanfaat bagi pengembangan sistem kesehatan primer di berbagai negara,” katanya.

Sebagai bentuk semangat dan kebanggaan, tagar #GiiksaGoInternasional digaungkan oleh tim Puskesmas Ngaglik 1. Momen ini menandai babak baru dalam pengakuan global terhadap kekuatan model pelayanan kesehatan Indonesia yang berbasis komunitas, empati, dan keberlanjutan. (ESK – KIM DSN Ngaglik)

image_pdfimage_print
Bagikan: