Sleman – Di tengah kearifan lokal yang masih lestari di Dusun Kaliabu, Banyuraden, Sleman, hadir semangat baru yang menghubungkan pengetahuan akademik dengan pengembangan masyarakat melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (Abdimas) oleh Fakultas Teknik Industri Universitas Islam Indonesia (FTI UII). Program ini bukan sekadar kegiatan formalitas perguruan tinggi, melainkan perwujudan nyata dari Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan, penelitian, dan pengabdian.
Wanadesa Kaliabu yang selama ini dikenal sebagai kawasan yang memadukan pelestarian alam, budaya, dan kegiatan ekonomi berbasis masyarakat, Jumat sore (18/7/2025) menjadi ruang kolaborasi hidup antara masyarakat dan akademisi dalam membangun ketahanan lingkungan dan ekonomi berbasis kearifan lokal.
Namun, tantangan teknologi tepat guna dan pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan masih menjadi pekerjaan rumah. Kehadiran tim Abdimas Fakultas Teknik Industri UII yang dipimpin oleh Agus Mansur menjawab kebutuhan tersebut. Dengan pendekatan rekayasa sosial dan teknologi sederhana yang membumi, mahasiswa FTI UII menciptakan sebuah metode pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan di wilayah tersebut.
Adapun program Abdimas itu berupa penyediaan sistem pengolahan limbah ramah lingkungan, pelatihan digitalisasi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), serta motivasi untuk membentuk karakter sumber daya manusia sebagai penggerak desa.
Lebih dari sekadar teknologi, Abdimas FTI UII juga membawa pendekatan humanistik dengan membangun dialog intensif bersama tokoh masyarakat, kelompok tani, dan karang taruna. Mereka diajak untuk tidak hanya menjadi objek penerima manfaat, tetapi subjek aktif dalam inovasi.
Pelatihan manajemen komunitas, kewirausahaan sosial, hingga digital marketing menjadi bagian penting dari rangkaian kegiatan. Termasuk motivasi bagaimana menyintai desa sehingga mendorong warga untuk mandiri dan kreatif dalam memanfaatkan potensi desanya.
Bagi seluruh civitas akademika yang terlibat dalam program ini pun merasakan manfaat besar. Mereka tidak hanya mengasah keterampilan teknis, namun juga belajar membumikan ilmu dalam konteks sosial yang nyata. Proses ini dapat memperkaya wawasan mengenai pentingnya empati, komunikasi lintas generasi, serta memahami dinamika pembangunan dari akar rumput.
“Dengan demikian, Abdimas menjadi ruang belajar dua arah antara kampus dan masyarakat,” ujar Agus dihadapan audiens.
Pengelola Wanadesa Kaliabu, Paryoto yang didampingi Sekretarisnya, Roihan Afifurrofi mengapresiasi kehadiran rombongan FTI Universitas Islam Indonesia. Ia berharap kerja sama ini dapat berlanjut secara berkesinambungan.
Paryoto menilai bahwa program semacam ini mampu menumbuhkan semangat gotong royong berbasis ilmu pengetahuan, yang menjadi pondasi penting dalam menjaga kedaulatan desa di tengah arus modernisasi.
“Program Abdimas ini membuktikan bahwa sinergi antara perguruan tinggi dan masyarakat dapat melahirkan perubahan positif yang berakar kuat dan tumbuh sesuai kebutuhan lokal,” ujarnya.
“Wanadesa Kaliabu bukan sekadar tempat pengabdian, tapi juga titik awal lahirnya inovasi berkelanjutan yang berakar pada tradisi, sekaligus terbuka pada kemajuan zaman,” sambung Paryoto.
Dengan semangat kolaboratif ini, Fakultas Teknik Industri UII menunjukkan bahwa teknologi tidak selalu harus rumit dan mahal. Justru, ketika ilmu pengetahuan hadir dengan rendah hati dan penuh kepedulian, maka akan mampu mengubah wajah desa menjadi lebih mandiri, lestari, dan bermartabat. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)


