Sleman – Di tengah derasnya arus modernisasi dan gempuran budaya luar, Sanggar Widya Pramana di Banyuraden, Gamping, Sleman, tampil sebagai benteng pelestarian seni karawitan Jawa. Sanggar yang berdiri lebih dari satu dekade ini terus konsisten membina generasi muda agar menyintai dan menguasai seni gamelan, tidak sekadar sebagai pelengkap upacara, tetapi sebagai ekspresi budaya yang hidup dan berkembang.
Semangat ini menjadikan Sanggar Widya Pramana sebagai kawah candradimuka bagi lahirnya para pengrawit muda yang handal dan berdedikasi. Hal tersebut dituturkan Aryo Tejo di Pendhapa Kekandhangan, Kamis (24/7/2025).
Di bawah arahan seniman-seniman senior dan pelatih berpengalaman, para cantrik yang sebagian besar adalah remaja dan pelajar dibimbing untuk memahami filosofi, teknik, dan etika dalam memainkan gamelan. Materi pelatihan meliputi permainan saron, bonang, kendang, hingga gender, serta tata cara mengikuti irama dan tempo yang khas dalam setiap gending. Tidak hanya praktik, mereka juga diajak mendalami sejarah dan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam karawitan.
Sanggar Widya Pramana yang dipimpin oleh Aryo Tejo pun aktif menjalin kerja sama dengan beberapa sekolah, komunitas seni, institusi kebudayaan, bahkan industri swasta nasional. Kolaborasi ini membuka ruang tampil yang luas bagi para pengrawit muda, sekaligus memperluas jejaring dan wawasan mereka seperti yang ditunjukkan beberapa hari lalu di ajang The Local Market Jakarta. Dalam setiap kesempatan tampil, mereka tidak hanya membawa alat musik, tetapi juga semangat untuk menghidupkan kembali ruh budaya Jawa di hati penontonnya.
“Karawitan bukan sekadar soal teknik bermain alat musik. Ini tentang rasa, tentang membangun kebersamaan dan kesabaran,” ujar Murdianto Murdo Puspito, pendiri sekaligus pembina Sanggar Widya Pramana Banyuraden. Menurutnya, proses mencetak pengrawit bukan hanya melatih keterampilan tangan, tapi juga menumbuhkan karakter dan kecintaan terhadap budaya bangsa.
Setiap minggu, suara gamelan menggema dari Pendhapa Kekandhangan, menandai semangat anak-anak muda yang giat berlatih. Mereka datang dengan antusias, bahkan rela meluangkan waktu di sela-sela kegiatan sekolah. Tidak sedikit darinya yang telah menunjukkan kemampuannya dengan tampil di berbagai panggung, baik lokal maupun nasional. Keikutsertaan mereka dalam event seperti The Local Market di Jakarta baru-baru ini menjadi bukti nyata bahwa karawitan masih relevan dan diminati generasi muda.
Menariknya, pembinaan di sanggar ini tidak kaku. Metode pengajaran yang interaktif dan pendekatan kekeluargaan membuat suasana belajar menjadi menyenangkan. “Kami mencoba menjauh dari kesan formalitas yang kaku. Justru lewat kegembiraan dan kebersamaan, anak-anak jadi lebih cepat menguasai,” jelas Sarwono Gembok sebagai salah satu pelatih. Hasilnya, selain mahir bermain gamelan, para siswa pun tumbuh menjadi pribadi yang santun, percaya diri, dan mampu bekerja dalam tim.
Kini, Sanggar Widya Pramana yang berdiri sejak 18 mei 2007 telah mencetak puluhan pengrawit muda yang telah tampil di berbagai event budaya. Beberapa dari mereka bahkan telah dipercaya untuk mengiringi pentas tari dan pagelaran wayang kulit di dalam maupun di luar wilayah Kabupaten Sleman. Regenerasi pengrawit pun berjalan lancar, untuk menjawab kekhawatiran banyak pihak tentang krisis seniman tradisional di era digital.
Melalui dedikasi, konsistensi, dan semangat gotong royong, Sanggar Widya Pramana menjadi contoh nyata bahwa pelestarian budaya bukan sekadar wacana, melainkan sebuah gerakan nyata dari akar rumput. “Di tangan mereka yang muda dan penuh semangat, suara gamelan akan terus hidup dan bergema, membawa nilai-nilai luhur budaya Jawa ke masa depan,” tutup Tejo. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)


