Sleman – Istikanah, pedagang Jamu di kios Pasar Tempel sudah lebih dari setengah abad usianya. Ditemui di kios kecilnya di bagian utara di dalam Pasar Tempel, Jumat (8/8/2025), Isti bercerita bahwa ia sejak usia 12 tahun sudah berjualan jamu di Pasa Tempel.
“Sejak usia 12 tahun saya sudah membantu nenek jualan jamu di pasar ini. Sejak kecil saya sudah belajar menumbuk ramuan dan meracik jamu. Kemudian usia 15 tahun saya sudah buka sendiri,” ungkap Isti.
“Dari jaman dahulu sampai sekarang, minum jamu ya menggunakan gelas batok. Dulu ada beberapa kios jamu, namun belakangan satu persatu tutup. Tahun lalu masih ada di seberang pasar di jalan Turi. Kini tinggal saya sendiri yang masih bertahan,” sambungnya.
Jamu yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan, kini kalah pamor oleh jamu pabrik yang praktis dan cepat saji. Pembeli yang berkunjung tidak banyak lagi. Mereka datang dengan berbagai keluhan, mulai dari leher serak, pegal linu sampai jamu pasca melahirkan.
Di depan jongkonya berjejer karung kecil berisi bahan jamu seperti, jahe, kencur, lempuyang, kunir, cabe jamu, temu lawak, dingo, jeruk nipis, dan aneka rempah lainnya.
Anak-anaknya tidak ada yang bersedia meneruskan usahanya. Tapi aroma bumbu jamu yang sudah terlanjur akrab dan rasa tanggung jawab menjaga warisan ilmu neneknya, membuat Isti tetap bertahan dengan profesi tersebut. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)


