Sleman- Di tengah menjamurnya jajanan modern, bubur tradisional Jawa tetap bertahan sebagai kuliner yang dicari masyarakat. Salah satu penjual bubur tradisional Jawa ini ialah Bu Sarinem.
Perempuan yang akrab disapa mbah Sarine mini mulai menjajakan bubu sejak pukul 05.00 pagi di Pasar Tempel. Saat ditemui di lapaknya, Rabu (17/9/2025), mbah Sarinem menjelaskan ada tiga macam bubur yang dijualnya, yakni bubur candil, bubur mutiara, dan bubur sumsum.
“Ada tiga macam bubur yang selalu saya bawa dari rumah, bubur candil yang berwarna cokelat, bubur mutiara yang merah, dan bubur sumsum yang putih,” ujarnya sambil sesekali melayani pembeli.
Untuk menjaga kualitas, sebagian bahan ia siapkan sejak sore hari, lalu mulai memasak bubur sejak pukul 01.30 dini hari. “Setiap hari menghabiskan 1,5 kilogram beras biasa, satu kilogram beras ketan, dan tiga butir kelapa,” jelasnya.
Meski sederhana, proses penjualannya tetap membutuhkan modal dan tenaga. Mbah Sarinem setiap hari menyewa ojek dengan ongkos 20 ribu rupiah untuk berangkat, dan 12 ribu rupiah untuk pulang. Sementara bubur buatannya dijual dengan harga sangat terjangkau, yakni Rp2.000 per bungkus atau Rp2.500 jika menggunakan gelas plastik.
Bagi sebagian orang, bubur Jawa bukan hanya sekadar makanan ringan, melainkan juga bagian dari tradisi. Bubur candil, misalnya, biasa disajikan dalam hajatan atau upacara adat Jawa. Sementara bubur sumsum kerap dihidangkan dalam acara syukuran. Rasanya yang manis, gurih, sekaligus lembut membuat hidangan ini dapat dinikmati oleh segala usia, dari anak-anak hingga orang tua.
Keberadaan penjual bubur Jawa ini menjadi bukti bahwa cita rasa tradisional tetap memiliki tempat di hati masyarakat, bahkan di tengah derasnya arus kuliner modern. Tidak hanya mengenyangkan, bubur Jawa juga menyimpan nilai budaya yang patut dijaga kelestariannya. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)


