Sleman – Kepala Istana Kepresidenan Yogyakarta, Dedi Mulyana, menegaskan pentingnya menumbuhkan budaya membaca di tengah masyarakat melalui kegiatan literasi yang terintegrasi dengan perkembangan zaman.
Hal itu disampaikannya pada kegiatan Teduh Baca dalam rangka Bulan Literasi dan Hari Kunjung Perpustakaan di Istana Kepresidenan Yogyakarta, pada Rabu (17/9/2025).
Menurut Dedi, Istana Kepresidenan Yogyakarta atau dikenal sebagai Gedung Agung, memiliki nilai historis penting bagi bangsa Indonesia. Gedung ini pernah menjadi pusat pemerintahan Republik Indonesia pada tahun 1946, tempat Presiden Soekarno memimpin pemerintahan dan Wakil Presiden Mohammad Hatta berkantor.
“Gedung Agung adalah bagian dari lima istana kepresidenan yang dimiliki Republik Indonesia. Nilai sejarahnya amat tinggi, namun kini juga kami hidupkan sebagai pusat literasi dan pembelajaran publik,” ungkapnya.
Pengelola Perpustakaan Istana Kepresidenan Yogyakarta, Arbiyanti Mahanani, menyampaikan bahwa Teduh Baca 2025 merupakan penyelenggaraan perdana. Dari ratusan pendaftar, hanya 20 peserta terpilih untuk mengikuti rangkaian kegiatan, yang diawali dengan program Istana untuk Rakyat (Istura) dan dilanjutkan dengan membaca serta diskusi bersama di Taman Serambi Museum Istana.
“Kami berharap kegiatan ini dapat menumbuhkan semangat literasi yang inklusif sekaligus mengakar pada sejarah bangsa,” ujarnya.
Dalam kegiatan tersebut, anggota KIM Depok Sleman, Athiful Khoiri dinobatkan sebagai Peserta Terbaik Teduh Baca 2025. Ia menegaskan bahwa perpustakaan bukan sekadar ruang penyimpanan pengetahuan, tetapi juga sumber inspirasi dan harapan bagi masyarakat.
“Hari Kunjung Perpustakaan mengingatkan kita akan pentingnya literasi sebagai jalan untuk meningkatkan kualitas hidup dan menyalakan harapan bagi masa depan,” tuturnya.
Menurutnya, penobatan peserta terbaik ini, menegaskan bahwa Teduh Baca Istana Kepresidenan Yogyakarta bukan hanya perayaan literasi, tetapi juga ruang inspiratif yang menghubungkan sejarah bangsa dengan semangat baru dalam membangun generasi pembelajar. (Lidya Agustina/KIM Depok)


