Sleman – Ketua Tim Pengembang Pembelajaran Mendalam Kemendikdasmen RI, Suyanto, menegaskan bahwa filosofi pendidikan memiliki peran fundamental dalam membangun sistem pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan manusia secara utuh.
Menurutnya, pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, tetapi instrumen transformasi sosial yang harus mampu mencerdaskan, memerdekakan, serta memberdayakan manusia agar dapat berkontribusi positif bagi masyarakat.
“Filosofi pendidikan harus menjadi dasar agar pembelajaran tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, melainkan juga membentuk karakter, kreativitas, dan empati. Inilah esensi dari Pembelajaran Mendalam yang menempatkan peserta didik sebagai pusat proses belajar,” ujar Suyanto dalam Talkshow Pendidikan bertajuk “Konsep Pembelajaran Mendalam dari Teori ke Praktis” di Gedung Olahraga UNY, Sabtu (20/9/2025).
Dalam paparannya, Suyanto menguraikan pandangan para filsuf pendidikan seperti John Dewey, Ki Hajar Dewantara, K.H. Ahmad Dahlan, hingga K.H. Hasyim Asy’ari yang menekankan pentingnya pendidikan berbasis nilai, budaya, dan kemanusiaan.
“John Dewey, misalnya, menyatakan bahwa pendidikan adalah kehidupan itu sendiri, bukan sekadar persiapan untuk masa depan,” ungkap dia.
Sementara Ki Hajar Dewantara, lanjutnya, lebih menekankan sistem among dengan nilai asah, asih, dan asuh yang berorientasi pada kemandirian peserta didik.
“Ki Hajar Dewantara dan K.H. Ahmad Dahlan sama-sama melihat pendidikan sebagai alat perubahan sosial. Prinsipnya jelas, pendidikan harus melahirkan manusia berintegritas yang aktif menciptakan masyarakat berkemajuan,” tambahnya.
Rektor UNY 1999-2007 itu menekankan, bahwa filosofi pendidikan yang inklusif, visioner, dan adaptif harus diintegrasikan dalam Pembelajaran Mendalam (PM).
Pendekatan ini, menurutnya, relevan dengan tantangan global yang penuh kompleksitas dan ketidakpastian karena mengembangkan empat dimensi manusia secara holistik, yaitu olah pikir, olah hati, olah rasa, dan olah raga.
“Pembelajaran Mendalam tidak hanya meningkatkan kemampuan akademik, tetapi juga menumbuhkan spiritualitas, empati sosial, dan integritas moral. Dengan begitu, generasi kita siap menghadapi dunia yang berubah cepat sekaligus tetap berakar pada nilai luhur bangsa,” tegasnya.
Dalam konteks pendidikan anak usia dini (PAUD/RA), Suyanto menambahkan bahwa implementasi Pembelajaran Mendalam difokuskan pada pengembangan kemampuan fondasi spiritual, emosional, sosial, kognitif, motorik, dan karakter.
Melalui pendekatan bermain sambil belajar, aktivitas berbasis proyek, serta interaksi sosial, anak-anak diajak mengeksplorasi pengalaman bermakna sejak dini.
“Jika fondasi pendidikan dikuatkan sejak usia dini, maka generasi mendatang akan tumbuh menjadi manusia utuh, cerdas, berkarakter, dan berdaya menghadapi tantangan zaman,” pungkasnya. (Athiful/KIM Depok)


