Sleman – Sebuah lagu atau tembang kadang mengandung makna filosofi yang dalam, seperti lir ilir, gundul-dundul pacul, dan lain sebagainya.
Namun kadang tembang dolanan bocah tersebut menggambarkan kisah kehidupan yang terjadi di masa silam.
“Seperti tembang dolanan berjudul cungkup yang berasal dari daerah Pantura,” ucap Ketua Paguyuban Kembang Adas, Furtunata Sri Kaswami Rahayu yang biasa disapa Cicit Kasmawi, dihadapan para tamu pagelaran ulang tahun ke-9 Paguyuban Kembang Adas, Selasa (30/9/2025) di Ruang Seminar Taman Budaya Yogyakarta.
Dikisahkan oleh Cicit Kaswami, dahulu pada masa pemerintahan Sultan Agung, Raja Mataram Islam kekuasaannya sangat luas. Hampir seluruh pulau Jawa termasuk wilayah pantai utara (Pantura) banyak didatangi bangsa asing untuk melakukan perdagangan, seperti Belanda (VOC), Arab, China, dan Portugis.
Saat itu, wanita Jawa masih akrab memakai tusuk konde diselipkan pada rambutnya. Orang di Jawa jugua agak susah melafalkan bahasa orang asing. Sehingga kadang penyebutan nama hanya disesuaikan dengan nama asli. Alhasil orang Pantura menyebut nama pedagang Portugis tersebut Cungkup.
“Tapi Cungkup bukan nama rumah kecil yang ada di kuburan. Cungkup tersebut nama salah seorang pedagang dari Portugis,” jelas Cicit.
Alhasil setelah beberapa saat mencari wanita Jawa yang sesuai dengan keinginannya, Cungkup menikah dan hidup bersama wanita Jawa. Dari pernikahan tersebut, Cungkup memiliki keturunan. Karena Cungkup menikah dengan wanita Jawa, dirinya harus bisa menyesuaikan dengan kehidupan dan budaya Jawa.
Cungkup bisa beradaptasi dengan baik pada lingkungan dan budaya Jawa. Meski terkadang menjadi bahan candaan karena biasanya orang Jawa mempunyai hidung tidak begitu panjang beda dengan orang bangsa Portugis. Candaan itu tertulis dalam akhir tembang dolanan anak Cungkup.
“Ela elo wong desa irunge dawa (Ela elo, penduduk desa berhidung panjang),” jelas Cicit.
Kisah perjuangan pedagang Portugis Cungkup dalam mencari istri wanita Jawa dan hidup bahagia, hingga memiliki keturunan dan beradaptasi dengan kehidupan dan budaya Jawa. Kisah tersebut dituliskan dalam tembang dolanan anak dengan judul “Cungkup”. (Kusnadi KIM Berbah)


