JGrow+, Program Inovasi Pemanfaatan Limbah Ternak Jadi Pupuk Organik

Sleman – Tim mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) berhasil menghadirkan inovasi baru di bidang pertanian melalui program JGrow+ (Jamblangan Grow+), sebuah terobosan yang memanfaatkan limbah ternak menjadi pupuk organik plus (POP) dan biofertilizer.

Program ini dijalankan di Jamblangan Margomulyo Seyegan. Di mana, tim mahasiswa yang terdiri dari Tsabita Afidati, Hammad Fajar Ramadhani, Satria Enggal Buana, Ma Putri Nabila, dan Widyaningsih Tutus bekerja sama dengan Karang Taruna Permadi 13 Desa Jamblangan mengoptimalkan potensi sumber daya lokal.

“Desa Jamblangan sebenarnya memiliki potensi besar dengan 20 ekor sapi dan 20 ekor kambing yang menghasilkan sekitar 230 liter urin dan 222 kilogram feses setiap harinya. Limbah tersebut kaya akan unsur bermanfaat seperti nitrogen dan karbon organik yang bisa dimanfaatkan sebagai nutrisi alami bagi tanaman,” jelas Tsabita Afidati, pada Kamis (2/9/2025).

Inovasi JGrow+ tidak hanya mengolah feses dan urin ternak, tetapi juga memanfaatkan sisa sayuran rumah tangga serta tembakau dari puntung rokok untuk memperkaya kualitas pupuk. Lebih lanjut, produk ini dilengkapi sembilan jenis mikroorganisme yang berfungsi mendukung pertumbuhan tanaman.

Proses produksi dilakukan dengan fermentasi. Pupuk organik plus membutuhkan waktu satu hingga 1,5 bulan. Sementara biofertilizer sekitar 10–14 hari. Indikator sederhana digunakan untuk menilai kelayakan, salah satunya perubahan warna cairan menjadi lebih gelap dan aroma menyerupai kecap. Setelah itu, produk disimpan di ruang tertutup dengan pelepasan gas secara berkala.

“JGrow+ tidak hanya sekadar program teknis pengolahan limbah, tetapi juga gerakan pemberdayaan. Kami memberikan pelatihan tentang pengemasan, promosi, dan manajemen organisasi melalui pembentukan divisi dan sub-divisi. Harapannya, program ini bisa berkelanjutan dan mandiri,” ujar Tsabita Afidati.

Selain pendampingan langsung, metode Training of Trial (TOT) diterapkan agar masyarakat sekitar dapat mencoba dan mempraktikkan sendiri. Untuk memperluas jangkauan, tim juga membuat video tutorial yang diunggah melalui kanal YouTube sehingga masyarakat luas dapat belajar.

Program ini menjadi bukti bahwa solusi atas persoalan lingkungan dan pertanian dapat lahir dari kolaborasi mahasiswa dan masyarakat. Dengan memanfaatkan potensi lokal, Desa Jamblangan tidak hanya mampu mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, tetapi juga memberdayakan generasi mudanya.

“JGrow+ adalah bukti nyata bahwa generasi muda bisa menjadi motor perubahan dalam pengelolaan limbah ramah lingkungan sekaligus penguatan peran pemuda dalam pembangunan pertanian berkelanjutan” ungkap Tsabita Afidati. (Arief Hartanto KIM Kertomandiri Turi)

image_pdfimage_print
Bagikan: