Sleman – Setelah dinyatakan hilang selama 3 hari, seorang jamaah haji asal Kabupaten Sleman akhirnya ditemukan menjadi korban tewas dalam musibah jatuhnya crane di Masjidil Haram Mekkah Arac Saudim, Jumat (11/9). Setelah mendapat kabar duka tersebut pihak keluarga menangis histeris, karena mengetahui ayah 3 anak tersebut tidak bisa kembali lagi ke rumah. Korban jamaah haji yang meninggal tersebut adalah jamaah haji kloter 27 SOC atas nama Sriyana warjo Sihono bin Warjo Sihono warga Rewulu Kulon RT 3 RW 22 Desa Sidokarto Kecamatan Godean Sleman.
Tangisan histeris istri dan anak-anak tidak tertahankan lagi setelah mendengar kabar bahwa suami dan ayah mereka yang sedang menunaikan ibadah haji ke tanah suci Mekkah dikabarkan meninggal dunia akibat misibahg jatuhnya crane di Masjidil Haram.
Putri pertama Sriyono, Khusnul Latifah (21) terlihat lemas dengan mata yang sembab. Ia bebebarap kali sempat pingsan dan sejumlah sanak saudara mencoba menenangkannya. Sementara sang istri, Suryatiningsih terlihat tegar saat menerima tamu yang datang meski sisa air mata masih terlihat di kelopak mata.
Sejumlah tamu perempuan yang mengenalnya mengucapkan belasungkawa sembari memberikan pelukan untuk menenangkannya. Di rumah duka juga tampak putri kedua almarhum, Alfiah Nur Hidayah (18) dan putri ketiga, Zakia Nur Afifah (11) Beberapa rekan kerja dan guru sekolah datang melayat. Rombongan siswa SMK N 2 Depok juga mendatangi rumah duka.
“Beliau merupakan salah satu guru di SMK N 2 Depok,” kata Muhammad Fauzan, kakak sepupu Sriyono
Pasca kejadian tersebut mereka memang sempat kehilangan kontak dengan korban Sriyana. Namun karena tidak tercantuim dalam daftar korban mereka masih berharap Sriyana bisa ditemukan dalam kondisi selamat.
Namun setelah 3 hari dinyatakan hilang, karapan untuk bertemu kembali dengan Sriyana akhirnya harus sirna karena pria berusia 48 tahun itu dilaporkan turut menjadi korban meninggal dalam musibah jatuhnya crane tersebut. Kontak terakhir dilakukan pihak keluarga pada hari Jumat lalu sesaat sebelum pergi ke Masjidil Haram untuk melakukan sholat ashar.
Sementara menurut Kepala Kantor Kementrian Agama Sleman, Lutfi Hamidm dikalangan pengelola haji di Sleman, Sriyana yang sehari-hari bekerja sebagai pengajar di SMK Depok ini dikenal aktif memposting info-info dari tanah suci. Terutama jika ada jamaah haji yang hilang. Tak hanya itu , Sriyana juga sempat mengunggah sebuah puisi dalam postongannya di grup medi a sosial.
Sriyana mendaftar haji sejak tahun 2000, dan korban berangkat ke tanah suci tanggal 30 Agustus lalu dan bergabung di kloter 27 SOC. Pihak keluarga sebenarnya berharap jenazah korban bisa dibawa pulang ke tanah air untuk dimakamkan, Namun karena terkendala aturan dari Pemerintah Arab Saudi , mereka mengaku pasrah dan mengiklaskan jenazah Sriyana dimakamkan di tanah suci.


