Sleman – Sebagian tanaman kopi di lereng Merapi, mati akibat kekeringan selama musim kemarau ini. Data sementara, luasan lahan kopi yang terkena dampak kekeringan sekitar 2,5 hektare. Kebanyakan tanaman yang mati itu merupakan bibit baru yang ditanam di lahan bekas erupsi Merapi 2010.
“Sebagian tanaman mati karena kepanasan. Di sekitar area itu memang belum ada pohon perindang,” ungkap Sumijo, salah satu petani kopi asal Dusun Petung, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Sleman, Senin (21/9).
Namun dibandingkan tahun lalu, tingkat kegagalan itu jauh berkurang. Tahun sebelumnya, luasan tanaman yang mati mencapai 60 hektare. Sebenarnya, kata Sumijo, tanaman kopi bisa bertahan selama kemarau. Asalkan banyak pohon perindang di sekitarnya seperti sengon atau lamtoro, sehingga mampu menahan terpaan sinar matahari secara langsung.
Untuk meminimalisir kerugian, petani mengganti tanaman kopinya dengan bibit baru. Bibit itu bisa diperoleh dari koperasi atau mengajukan permohonan bantuan kepada dinas terkait.
“Di koperasi masih ada bibitnya. Tapi untuk menanam sebaiknya menunggu awal musim hujan,” kata Sumijo yang juga Ketua Koperasi Usaha Bersama (KUB) “Kebun Makmur”.
Terpisah, Kepala Bidang Kehutanan dan Perkebunan, Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan (DP2K) Kabupaten Sleman, Rofiq Andriyanto mengatakan, pihaknya terus berupaya mendorong produksi maupun pemasaran biji kopi. Selain fasilitas penunjang, dinas juga memberikan bantuan pupuk dan bibit. Untuk menghindari tengkulak, petani disarankan menjual hasil panennya melalui koperasi.


