Sleman – Dari dusun kecil Jenengan, Kalurahan Pondokrejo, Tempel, Sleman, karya seni pahat batu yang diciptakan pematung otodidak Ipung melalui perusahaannya, Mey-mey Watu, telah tersebar ke pelosok tanah air hingga ke mancanegara.
Ditemui di rumahnya yang berada di sudut padukuhan di tepi sawah, Ismiyatun, pemilik Mey-mey Watu sekaligus istri Ipung, bercerita tentang proses pembuatan prasasti dari batu besar yang hampir semua sisinya dipahatkan tulisan. “Kami pelajari permintaan pemesan, kemudian kami cari batu yang tepat baik bentuk, jenis, maupun besarnya,” jelasnya pada Minggu (16/11/2025).
“Kalau batu itu tidak ada dalam stock kami, kami datangkan dari luar kota dan diangkut dengan truk yang dilengkapi katrol,” tambahnya.
Halaman rumah Ipung yang rindang sekaligus menjadi ruang pamer hasil karyanya, menampilkan berbagai patung batu, baik realistik maupun abstrak, yang bertebaran di sana. Permukaan dinding teras dihias dengan beragam hasil kerajinan batu, termasuk ukiran relief. Bahkan, meja tamunya terbuat dari marmer cokelat, sementara kursinya juga terbuat dari batu yang lekukan permukaannya dipahat halus.
Ismi, panggilan akrab Ismiyatun yang juga berasal dari keluarga seniman, mengatakan bahwa sebagian besar pesanan diperoleh dari komunitas seniman yang saling berbagi pekerjaan.
“Kami berada dalam kumpulan seniman yang sangat bersahabat, saling mendukung dan membantu, sehingga pekerjaan terus mengalir,” katanya.
Mey-mey Watu juga banyak menerima pesanan dari seniman luar negeri seperti Amerika, Belanda, Perancis, dan Korea.
“Biasanya sesama seniman kami bisa berkomunikasi lebih detail dalam masalah teknis dan desain,” sambung Ismi.
Ismi juga menyebutkan peran Art Jog sangat membantu dalam promosi, komunikasi, dan edukasi para seniman di Jogja. Seperti diketahui, Art Jog adalah festival seni kontemporer tahunan yang berlangsung selama sebulan penuh di Jogja. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)


