Sleman – Di Dusun Soka, Tegal, Kalurahan Merdikorejo, Tempel, aroma rempeyek hangat menjadi rutinitas harian di rumah Widarti. Sejak 2015, setelah berhenti dari usaha penggergajian batu, ia mengembangkan usaha Rempeyek Sokanata, sebuah camilan tradisional yang kini dikenal hingga berbagai toko oleh-oleh dan pasar di wilayah kecamatan.
Saat ditemui Senin (17/11/2025), Widarti menunjukan dapur dan penggorengan yang biasa digunakannya. “Proses pembuatannya tetap manual, tanpa mesin, mempertahankan cita rasa khas rempeyek rumahan,” jelasnya.
“Bahan utamanya adalah tepung beras dari pabrik Karanganyar Solo, dan tepung tapioka dari Pasar Tempel,” sambungnya.
Rempeyek buatannya dilengkapi dengan beberapa pilihan isian, yaitu kacang, rebon, kedelai, teri, bayam, kacang hijau, serta daun kelor yang ia beli dari Pasar Tempel. Setiap hari, Widarti memproduksi lima hingga 10 kilogram, dan saat pesanan membludak ia dibantu tiga karyawan. Rempeyek Sokanata dijual melalui pasar, toko oleh-oleh, dan pemasaran daring.
Dalam tradisi Jawa, rempeyek selalu hadir dalam acara kenduri. Tak jarang, ketika stok habis dan pesanan mendesak, Widarti harus menarik kembali barang titipan di pedagang untuk memenuhi permintaan warga.
Capaian menarik diraih Widarti saat produk rumahan ini mempertemukannya dengan Wapres Gibran Rakabuming Raka dan Sandiaga Uno lewat gelaran UMKM. Dari dapur sederhana di Soka Tegal, Rempeyek Sokanata membuktikan bahwa usaha kecil pun dapat menembus panggung besar. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)


