Sleman – Mengenalkan jenis tanaman serta manfaatnya untuk kesehatan melalui tembang dolanan anak (lagu permainan anak) menjadi salah satu cara efektif mentransfer pengetahuan kepada anak, sekaligus melestarikan kebudayaan sastra Jawa. Metode ini dicontohkan oleh tokoh seniman dan budayawan sastra Jawa, Suhindriyo (72 tahun).
Hal itu disampaikan Suhindriyo pada perayaan ulang tahun ke-7 Paguyuban Pasbujo Kawi Merapi di pendopo Manggar Puri Mataram, Drono, Tridadi, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (22/11/2025).
Suhindriyo, yang juga redaktur di majalah bahasa Jawa Djoko Lodang, telah mempersiapkan berbagai jenis dedaunan lengkap dengan tangkainya dari rumah. Setiap peserta diberikan satu tangkai daun yang kemudian dipakai dalam permainan. Awalnya, peserta tidak tahu tujuan dari tangkai daun yang mereka pegang.
Suhindriyo membuka acara dengan tembang pembuka asmarandana, lalu disambung dengan tembang dan cakepan prolog yang menggambarkan alam semesta.
Ia kemudian mengajak peserta menyanyikan tembang “Suwe Ora Jamu”. Ketika sampai pada kata godhong (daun), misalnya daun tela (singkong), peserta yang memegang daun tersebut akan maju melanjutkan tembang hingga selesai. Selanjutnya, peserta itu akan menunjuk jenis daun lain yang akan dibuat tembang.
“Begitu seterusnya sampai peserta terakhir. Saat menyebut jenis daun tersebut dijelaskan juga nama dan manfaat khasiat daun tersebut,” ucap Suhindriyo.
Pria yang merupakan pensiunan SMA Negeri Godean 1 ini menjelaskan syair dari tembang “Suwe Ora Jamu” sebagai berikut: “Suwe ora jamu, jamu godhong tela. Suwe ora ketemu, ketemu pisan gawe gela.”
“Begitu bergantian dengan mengganti nama jenis godhong,” jelasnya, menerangkan bagaimana metode ini mengedukasi anak-anak tentang tanaman sambil melestarikan sastra Jawa. (Kusnadi/KIM Berbah)


