Sleman – Paguyuban Sastra Budaya Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi Kabupaten Sleman merayakan ulang tahun ke-7 dengan meluncurkan empat buku baru pada Sabtu (22/11/2025), di Pendopo Puri Mataram Tridadi, Sleman, Yogyakarta.
Ketua Pasbuja Kawi Merapi, Sutopo, menyampaikan bahwa tradisi penerbitan buku menjadi salah satu agenda rutin setiap ulang tahun. Untuk perayaan kali ini, Pasbuja meluncurkan buku antologi Cerita Pendek (Cerkak) bertema Banyu (Air) yang berjudul “Nyecep Banyu Panguripan” (NBP).
Buku antologi tersebut ditulis oleh 42 anggota Pasbuja dan diterbitkan oleh Lingkar Antarnusa pada November 2025. Proses penyusunan buku ini membutuhkan kerja keras dari tim editor Veronika Naning, Eny MS, Ngatilah, dan Eti Daniastuti karena sebagian penulisnya adalah pemula.
“Ada beberapa kata yang akan beda pengucapan dengan penulisan,” tutur Sutopo, menjelaskan tantangan penulisan sastra Jawa bagi penulis pemula. Ia memberikan apresiasi tinggi kepada tim editor yang berhasil menyelesaikan antologi tersebut sebagai kado ulang tahun Pasbuja.
Penanggung jawab kegiatan peluncuran buku, Veronika Naning, menyampaikan bahwa selain antologi Cerkak NBP yang merupakan karya bersama, ada tiga buku karya mandiri dari anggota Pasbuja yang juga diluncurkan.
Tiga buku karya mandiri tersebut adalah “Jejak Pena Yang Tertinggal” karya Kusnadi dari Berbah, sebuah kumpulan lebih dari seratus artikel berita tentang dinamika sosial, pendidikan, dan kebudayaan lokal; novel fiksi tentang identitas masa lalu dan transformasi karya R. Toto Sugiarto; serta buku cerita anak berjudul “Adik Sudah Lahir” karya Anik Wantari.
Veronika menjelaskan bahwa buku Kusnadi merekam semangat gotong royong antar warga serta berbagai upaya pelestarian dan pembangunan yang dilakukan oleh beragam komunitas. “Buku jejak pena yang tertinggal bukan sekedar kumpulan berita, tetapi sebuah mosaik kehidupan yang mencerminkan peradaban kecil yang tumbuh dengan kesadaran, cinta dan kerja keras,” lanjut Naning.
Sementara itu, buku Anik Wantari mengisahkan seorang perempuan kecil bernama Chayra yang menyambut kelahiran adiknya. Kisah ini juga mengenalkan tradisi sodakoh yang disebut brokohan, yaitu sedekah makanan berupa nasi, lauk, sayur gudangan, dan jajan pasar sebagai ucapan syukur dan doa untuk keselamatan bayi yang baru lahir dan seluruh keluarga. (Kusnadi/KIM Berbah)


