Sleman– Omzet petani ikan di Kabupaten Sleman mengalami penurunan drastis akibat dampak musim kemarau yang cukup panjang dan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar.
“Kemarau panjang menyebabkan pembibitan ikan banyak yang gagal, juga harga pakan mengalami kenaikan akibat dolar naik,” kata Ketua Kelompok Petani Ikan Dusun Bokesan, Desa Sindumartani Kecamatan Ngemplak Sleman, Saptono, Minggu (4/10).
Menurut Saptono, kondisi air yang tidak menentu pada saat kemarau membuat benih ikan banyak yang mati.
“Kalau jumlahnya bibit yang mati banyak. Siang panas, pagi hari dingin. Ini Menyebabkan bibit ikan tidak tahan dan banyak yang mati,” katanya.
Saptono menambahkan bibit ikan yang mati tersebut, diantaranya seperti nila dan gurami. Sementara, untuk jenis lele masih bisa bertahan dengan kondisi cuaca seperti ini.
“Kalau jenis lele, masih bisa hidup bibitnya,” kata Saptono.
Saptono yang juga sebagai Pengelola Pusat Pelatihan Mandiri Kelautan dan Perikanan (P2MKP) Mina Ngremboko tersebut mengatakan, permasalahan lain yang dihadapi adalah sejak dua minggu terakhir ini harga pakan ikan naik.
“Nilai tukar rupiah juga berpengaruh. Perkilogram, pakan naik Rp100, kalau dihitung hasil penjualan, tidak nutup, karena penjualan ikan dari kolam harganya tak ada kenaikan,” tuturnya.
Akibat kondisi seperti ini lanjutnya, petani ikan pun harus pintar-pintar untuk memanajemen keuangannya. Agar tetap bisa bertahan, paling tidak hingga akhir tahun nanti.
“Kami perkirakan kondisi ini akan berlangsung sampai Desember. Jadi ya harus pintar-pintar mengelola keuangannya,” kata Saptono.


