Sleman – Upaya modernisasi layanan dasar masyarakat di Kabupaten Sleman dibahas mendalam dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Peningkatan Kapasitas Tim Penggerak (TP) Posyandu hari kedua. Acara yang berlangsung Selasa (25/11/2025) di Ruang Pertemuan Kalurahan Margorejo, Tempel, ini menyoroti transformasi Posyandu dan penguatan kewenangan Puskesmas.
Bimtek tersebut menghadirkan tiga narasumber, yaitu Aris Wibawa, Kepala Jawatan Sosial Kapanewon Tempel, Sartika Pratiwi Fatmaningrum dari Puskesmas Tempel 1, serta Agus Wasiso Wibowo, dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK) Kabupaten Sleman.
Mengawali kegiatan, Carik Margorejo, Aryanto Wibowo, menyampaikan komitmen kalurahan dalam mendukung penguatan Posyandu dan Puskesmas melalui monitoring dan evaluasi berkala.
“Kami di Kalurahan Margorejo siap melakukan monitoring dan evaluasi secara rutin untuk memastikan setiap kegiatan Posyandu berjalan sesuai standar. Bukan hanya menilai, tetapi memastikan bahwa pelayanan betul-betul dirasakan manfaatnya oleh warga,” ujar Aryanto.
Ia menambahkan bahwa peran pemerintah kalurahan sangat krusial dalam keberlanjutan program. “Transformasi tidak akan berhasil tanpa koordinasi yang kuat. Kalurahan berkewajiban memastikan kegiatan berjalan konsisten, terukur, dan berkelanjutan,” tegasnya.
Dalam sesi materi, Aris Wibawa menegaskan bahwa transformasi Posyandu kini melibatkan lima bidang lintas sektor, yaitu Pendidikan, Pekerjaan Umum, Perumahan Rakyat, Ketertiban Umum (Trantibum), dan Sosial. Pendekatan ini mengacu pada dokumen TP Posyandu Sleman 2025.
“Posyandu bukan hanya meja pelayanan, tetapi pusat kegiatan keluarga yang memadukan banyak sektor,” kata Aris, menjelaskan bahwa Posyandu akan menjadi titik integrasi layanan keluarga yang lebih luas.
Narasumber kedua, Sartika Pratiwi Fatmaningrum, menekankan bahwa Puskesmas tetap menjadi pengendali utama layanan kesehatan primer. Ia menjabarkan enam kewenangan standar Puskesmas, mulai dari kesehatan ibu dan anak, imunisasi, gizi, hingga pengendalian penyakit.
“Setiap intervensi di Posyandu harus sesuai standar. Tantangannya adalah memastikan partisipasi warga tetap tinggi dan keluarga tidak hanya datang, tetapi mengikuti saran tenaga kesehatan,” jelasnya.
Penutup materi disampaikan Agus Wasiso Wibowo, yang menekankan pentingnya penguatan kelembagaan Posyandu. Ia menyebut bahwa keberhasilan transformasi sangat bergantung pada kesiapan organisasi dan kader di lapangan.
“Kelembagaan yang kuat adalah syarat mutlak. Posyandu ke depan harus menjadi pusat layanan keluarga yang terintegrasi dan berkelanjutan,” ungkap Agus.
Dengan dukungan pemerintah kalurahan, keterlibatan lintas sektor, dan penguatan mandat Puskesmas, transformasi Posyandu di Sleman ditargetkan menghasilkan layanan dasar yang lebih efektif, modern, dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Bimtek ini menjadi momentum penting penyelarasan dan peningkatan kapasitas menuju keluarga Sleman yang sehat, mandiri, dan sejahtera. (Sbd/KIM Senyum Tempel)


