Sleman — Seminar AMR (Antimicrobial Resistance) 2025 menegaskan urgensi kolaborasi terpadu antar fasilitas pelayanan kesehatan. Direktur Rumah Sakit Universitas Ahmad Dahlan (RS UAD), Mu’alim Hawari, menyampaikan bahwa pencegahan resistensi antimikroba hanya dapat dicapai melalui peran aktif seluruh tenaga kesehatan di berbagai lini layanan.
“Resistensi antimikroba merupakan ancaman kesehatan global yang memerlukan tindakan kolektif. Rumah sakit, apotek, dan fasilitas kesehatan primer harus bergerak bersama dalam memastikan penggunaan antibiotik yang rasional,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa penyamaan persepsi, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, serta penguatan tata kelola antibiotik menjadi elemen penting dalam menjaga mutu pelayanan dan keselamatan pasien.
Kegiatan seminar bertema “Kolaborasi Rumah Sakit, Apotek & Faskes Primer dalam Mencegah Resistensi Antimikroba” tersebut diselenggarakan dalam rangka World AMR Awareness Week (WAAW) 2025 oleh RS UAD berkolaborasi dengan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Kolegium Farmasi Indonesia.
Acara berlangsung secara luring penuh pada Jumat (28/11/2025) di RS UAD Yogyakarta, dengan peserta terdiri atas Apoteker dan Tenaga Vokasi Kefarmasian (TVK) dari berbagai apotek, fasilitas kesehatan primer, dan rumah sakit. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Mu’alim Hawari, serta turut dihadiri perwakilan Dinas Kesehatan Sleman, Karunia Yuliawati.
Seminar ini menghadirkan dua narasumber yang kompeten. Narasumber pertama, Bombong Nurpagino, Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik RS UAD sekaligus Ketua Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) RS UAD, memaparkan pentingnya keselarasan kebijakan penggunaan antibiotik antar fasilitas kesehatan.
“Program PPRA membutuhkan dukungan berjenjang dari apotek dan fasilitas kesehatan primer agar setiap proses terapi antibiotik dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan klinis,” tegasnya dalam penyampaian materi.
Narasumber kedua, Dyah Aryani Perwitasari, Ketua Kolegium Farmasi Indonesia periode 2024–2028, menekankan bahwa penguatan peran apoteker dan tenaga kefarmasian merupakan bagian integral dalam mitigasi resistensi antimikroba. “Penerapan prinsip penggunaan antibiotik yang tepat membutuhkan profesionalisme dan ketelitian dari seluruh tenaga farmasi. Dengan tata kelola yang baik di semua tingkat pelayanan, hambatan dalam pengendalian AMR dapat diminimalkan,” ujarnya.
Penyelenggaraan seminar AMR 2025 ini mempertegas komitmen RS UAD sebagai institusi kesehatan dan pendidikan yang berperan aktif dalam penguatan sistem pengendalian resistensi antimikroba. Melalui sinergi antara rumah sakit, apotek, dan fasilitas kesehatan primer, upaya pencegahan AMR diharapkan berjalan lebih terstruktur, berkesinambungan, serta memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kualitas layanan kesehatan. (Lidya Agustina/KIM Depok)


