Sleman – Pemanasan global yang terus menerus terjadi selama bertahun-tahun belakangan mulai dirasakan efeknya oleh masyarakat di Indonesia. Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogja, Tony Agus Wijaya mengatakan bahwa musim penghujan di Indonesia di akhir tahun 2015 ini, khususnya Sleman baru akan hadir di minggu ketiga bulan November mendatang.
Hal tersebut menurut Tony mengindikasikan adanya perubahan siklus cuaca, di mana biasanya musim penghujan hadir mulai bulan Oktober.
“Fenomena perubahan iklim tersebut dirasakan oleh semua masyarakat di seluruh dunia. Iklim sekarang seperti jadwal kereta api, ada terlambatnya. Semua ini karena ulah kita sendiri karena banyak memakai kendaraan bermotor ke sana kemari. Fenomena ini tak bisa dielakkan,” kata Tony, Jumat (9/10).
Tony sendiri menjelaskan bahwa walaupun musim penghujan baru dimulai bulan November, namun pihaknya memprediksi akan ada turun hujan pada minggu depan meski hujan ringan. Hal tersebut lanjut Tony merupakan petunjuk bahwa Sleman telah memasuki musim pancaroba yang perlu diwaspadai.
“Musim pancaroba yang akan terjadi di bulan Oktober ini adalah musim peralihan dari kemarau ke penghujan atau sebaliknya. Anomali cuaca berubah drastis di musim pancaroba seperti seringnya terjadi angin kencang yang kecepatannya mencapai 45-60 km per jam, hujan deras ekstrim dalam waktu singkat, dan fenomena petir. Jika hal tersebut terjadi masyarakat diminta berlindung, hindari pohon-pohon tinggi yang rawan tumbang dan rawan tersambar petir serta tebing tinggi yang rawan longsor,” pungkasnya.


