Workshop Eco-Enzyme pada Sustaniverse 2025 Edukasi Pengelolaan Sampah dari Dapur

Sleman — Workshop pembuatan Eco-Enzyme oleh relawan Eco-Enzyme Nusantara (EEN) pada kegiatan Sustaniverse berlangsung di Gedung Inovasi dan Kreatif UGM, Depok, Sleman, Yogyakarta, pada hari Sabtu (29/11/2025). Workshop ini diikuti oleh pengunjung proyek Sustaniverse 2025 yang antusias.

Ketua Eco-Enzyme Nusantara (EEN) Provinsi DIY, Lusia Anggraeni, yang didampingi beberapa anggota EEN DIY, menjelaskan pentingnya pengelolaan sampah langsung dari sumbernya. Sumber sampah adalah dari rumah tangga, dan sumber utama sampah rumah tangga adalah dapur. Oleh karena itu, menjadi sangat penting melakukan pengelolaan sampah langsung dari sumbernya atau dari dapur.

Lusia menekankan, hal utama dalam pemilihan sampah adalah memisahkan sampah basah dan sampah kering. Sampah basah merupakan sampah organik yang bila tidak dikelola dengan baik akan menimbulkan bau yang tidak sedap, mengganggu lingkungan dan kesehatan. Bila sampah organik terkonsentrasi tertumpuk pada gunungan sampah, ia akan mengeluarkan gas metan yang membantu terbentuknya emisi rumah kaca. Gas metan juga mudah terbakar pada kondisi tertentu dan bisa menimbulkan ledakan.

Penanganan sampah basah bisa langsung dikomposkan di tempat masing-masing. Berbagai macam metode pengomposan tersedia, mulai dari yang sederhana hingga yang memerlukan mesin dalam proses pembuatan.

“Namun, ada satu cara yang efektif untuk mengelola sampah organik, yaitu dengan membuatnya menjadi eco-enzyme,” ucap Lusia.

Eco-enzyme sendiri merupakan cairan serbaguna yang dibuat dari fermentasi sampah organik berupa kulit buah dan sayuran, dengan tambahan gula dan air selama tiga bulan. Cairan ini kaya akan mikrobabsik yang bermanfaat sebagai pembersih alami, pupuk tanaman, pembersih lantai, penangkal serangga, dan dapat membantu kualitas udara dan air.

“Karena manfaatnya begitu banyak, eco-enzyme disebut cairan sejuta manfaat,” tambahnya.

Bahan untuk membuat eco-enzyme adalah kulit buah yang bersih tidak busuk, gula (atau bisa memakai molase), dan air. Perbandingannya adalah 1 bagian gula atau molase, 3 bagian bahan organik, dan 10 bagian air sumur yang tidak mengandung kaporit. Ketiga bahan tersebut dicampur dan dimasukkan dalam wadah yang bisa tertutup rapat. Perlu diingat bahwa wadah tidak boleh dari beling atau besi.

“Fermentasi memakan waktu selama tiga bulan, dan wadah tidak boleh dibuka dan terpapar sinar matahari serta bau menyengat,” jelas Lusia. (Kusnadi/KIM Berbah)

image_pdfimage_print
Bagikan: