Sleman — Kajian AKRAB (Aqidah Kokoh Relasi Aman, Batin Tenang) kembali digelar di Omah Katentreman, Ayam Goreng Kremes Sehati, Garongan, Kembang, Wonokerto, Turi, Sleman, pada Selasa (2/12/25). Puluhan jamaah ikhwan dari berbagai wilayah menghadiri kajian bertema “Ketika Bumi Mengeluh: Renungan Sunyi dari QS Ar-Rum 41” bersama pemateri Ade Wijaya.
Kajian ini mengajak peserta merenungi pesan QS Ar-Rum ayat 41, yang secara jelas menggambarkan kerusakan di darat dan laut sebagai akibat perbuatan manusia. Ade Wijaya menjelaskan bahwa ayat tersebut merefleksikan kondisi nyata di era modern, ketika bencana alam semakin sering terjadi. Menurutnya, kerusakan itu bukan sekadar gejala alam, melainkan akibat kesalahan sistemik yang lahir dari perilaku manusia.
“Bencana-bencana yang terjadi akhir-akhir ini adalah akibat ulah manusia sendiri. Ini tidak lepas dari sistem kapitalisme yang berpondasikan asas sekulerisme,” ujar Ade Wijaya.
Ia menilai bahwa sistem tersebut mendorong manusia bertindak hanya berdasarkan manfaat pribadi, sementara ukuran kebahagiaan direduksi menjadi pemuasan lahir dan batin semata.
Ia kemudian membandingkannya dengan nilai-nilai dalam sistem Islam. “Berbeda ketika yang dijalankan adalah sistem Islam. Fondasinya adalah akidah, setiap tindakan diukur dari halal atau haram, dan ukuran kebahagiaan tertinggi adalah mendapatkan rida Allah,” jelasnya. Menurutnya, perspektif inilah yang dapat mengembalikan manusia pada peran sebagai penjaga, bukan perusak bumi.
Perwakilan panitia, Nanda, mengatakan tema ini dipilih agar jamaah lebih peka terhadap tanda-tanda kerusakan alam yang kian tampak. “Ada suara lirih dari bumi yang jarang kita dengar,” ujarnya.
Ade Wijaya menutup kajian dengan dorongan agar jamaah menjadikan pesan ayat ini sebagai bahan refleksi dan perbaikan diri. “Semoga setiap langkah menuju majelis ilmu ini menjadi wujud kepulangan hati kita kepada-Nya,” tutupnya. (SBD/KIM Senyum Tempel)


