Sleman – Meningkatnya kebutuhan kamar kos di kota besar menjadikan sebuah peluang usaha bagi pemilik modal. Hal itu tentunya berdampak baik ataupun kurang baik, seperti munculnya berbagai masalah apabila pemilik kos atau ibu kos kurang bertanggungjawab pada lingkungan sosial.
Salah satunya tentang sampah. Bisa dipastikan setiap makluk hidup terutama manusia menghasilkan sampah.
“Perlu adanya upaya untuk menjadikan kos-kosan yang berwawasan lingkungan. Salah satunya membuat komitmen dengan calon penghuni kos,” tutur Nurul Istiqomah yang biasa dipanggil mbak Uul, pemilik kos pasutri rumah dan Kebun Ai Kampung Karangmoncol, Noyokerten, Sendangtirto, Berbah, Sleman, Kamis (4/12/2025).
Untuk hal itu, Uul akan mengintrogasi calon penghuni kos terkait kesediaan mengikuti aturan yang telah dia terapkan. Pertama harus pasangan suami istri yang sah dibuktikan dengan buku nikah yang berlaku. Tidak membawa hewan peliharaan tidak merokok dan yang paling utama bersedia mengelola sampah yang di hasilkan.
“Komitmen ini perlu dibicarakan sebelumnya, untuk mencegah terjadinya penyelewangan dari kesepakan yang telah dibicarakan bersama,” tutur ibu satu anak tersebut.
Pemilihan sampah pun tidak terlalu detail, hanya memisahkan sampah organik dengan sampah anorganik. Untuk sampah organik bisa langsung dekelola sendiri dimasukkan ke dalam tempat pengomposan berupa lubang biopori dan tempat pengomposan yang telah dipersiapkan. Sedangkan sampah anorganik harus kering dan bersih tidak tertempeli sampah organik.
“Contohnya ketika beli cilok pakai wadah plastik, pastilah ada bumbu cilok yang menempel di wadah plastik. Hal seperti ini yang membuat sampah menjadi terkontaminasi dengan sampah organik, sehingga bisa mengeluarkan bau dan kadang muncul hewan kecil seperti larva yang menjijikkan. Maka dari itu semua sampah anorganik yang terkena sampah organik harus dicuci dan dikeringkan,” ujarnya.
Sampah yang bersih akan mudah dijadikan barang lain yang bisa lebih mempunyai manfaat dari pada sampah biasa, dan juga sampah yang dihasilkan akan disimpan dulu sampai terkumpul banyak.
“Sampah dalam kondisi bersih dan kering akan lebih mudah tersimpan dan terkelola,”
Bila calon penghuni kos mau menerima akan semua persyaratan yang diajukan maka akan dilanjutkan sesuai kesepakatan. Sebuah kesepakatan untuk membentuk lingkungan kos yang berwawasan lingkungan.
“Upaya seperti dilakukan selain bentuk kecintaan kepada bumi juga meski cuma sedikit membantu pemerintah mengurang beban TPA yang semakin berat,” uajrnya. (Kusnadi KIM Berbah)


