Senjata Perang Diponegoro Dihadirkan dalam Gelar Pusaka Dalem Singodikaran

Sleman – Dalem Singodikaran, Kadisono, Margorejo, Tempel, Sleman, menjadi ruang perjumpaan antara sejarah dan budaya dalam Gelar Pusaka yang digelar selama tiga hari, yaitu tanggal 14 hingga 16 Desember 2025.

Dalam gelaran tersebut, sekitar 90 pusaka dihadirkan kepada publik, terdiri atas tombak, mata anak panah, lembing, serta keris yang mendominasi koleksi.

Pengageng Dalem Singodikaran, R. Chaerul Wardhana, menjelaskan bahwa sebagian besar pusaka merupakan koleksi kerabat Trah RM Singodikoro. Sementara lainnya berasal dari luar kerabat.

“Ini baru pertama kali kami adakan. Harapannya bisa berlanjut, tentu dengan melihat antusiasme masyarakat,” ujarnya saat ditemui pada, Senin (15/12/2025).

Pameran ini memberi kesempatan bagi pengunjung untuk menyaksikan perjalanan panjang Keris Nusantara, mulai dari era Mataram Kuno, Majapahit, hingga Mataram Islam, karya para empu yang ditempa sepenuhnya secara manual. Keris-keris modern juga ditampilkan, dengan jejak teknologi mesin yang masih kasatmata. Perbedaan gaya Yogyakarta dan Surakarta pun hadir secara halus, hanya dapat ditangkap oleh mata yang terlatih.

Hal yang menyentuh adalah kehadiran sejumlah senjata yang digunakan dalam Perang Diponegoro. Keris, pedang, mata tombak, lembing, hingga pisau tersaji sebagai saksi bisu keberanian para pejuang Jawa. Di hadapan pusaka-pusaka ini, sejarah terasa lebih dekat dan terhayati.

Dengan penuh ketelatenan, para pemandu menjelaskan detail fisik keris dari pamor yang menghias bilah logam, luk atau lekukan bilah, hingga hulu atau pegangan yang menyimpan nilai estetika dan simbolik.

Keindahan keris bahkan telah tampak sejak ia bersemayam dalam warangka. Busana keris dari kayu pilihan ini memiliki ragam bentuk, menandai fungsi pemakaian, konteks upacara, hingga status sosial pemiliknya. Beberapa warangka dibuat dari kayu utuh, menuntut keterampilan tinggi dalam proses pengukirannya.

Gelar pusaka ini kembali menegaskan bahwa keris bukan sekadar senjata. Namun karya budaya yang memuat teknologi, seni, filsafat, dan spiritualitas, sekaligus cermin jati diri sebuah bangsa. (Sadhono Hadi / KIM Senyum Tempel)

image_pdfimage_print
Bagikan: