Sleman – Pelaksanaan Haji tahun ini dapat dikatakan berjalan lancar sesuai dengan harapan, walaupun terdapat beberapa musibah yang menimpa jamaah haji tahun 2015 ini. Musibah robohnya crane di Masjidil Haram dan peristiwa jemaah haji berdesakan di Jalan 204, Mina juga menelan banyak korban jemaah haji Indonesia.
“Peristiwa tersebut memang di luar kehendak kita sebagai manusia adalah sesuatu yang kita maknai sebagai takdir Allah,” kata Penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi ketika mangayubagyo Haji di Rumah Dinas Bupati, Kamis (22/10).
Lebih lanjut disampaikan Gatot bahwa sukses dalam ibadah haji dengan meraih haji yang mabrur, baik mabrur secara personal maupun secara sosial. Hal ini ditandai dengan peningkatan amal saleh dalam kehidupan bermasyarakat.
“Kemabruran haji akan sangat ditentukan oleh kita sendiri, apakah setiap kita mau dan mampu mengamalkan dan menebar kebenaran, kebaikan, kebajikan, yang menjadi esensi ibadah haji terhadap diri sendiri dan kepada sesama dalam hidup bermasyarakat,” kata Gatot.
Menurut Gatot, pasca menunaikan ibadah haji dan pulang ke kampung halaman dengan menyandang gelar haji atau hajah, bukan berarti jemaah haji telah mencapai ke mabruran dan karenanya merasa ibadahnya sudah selesai. Karena kemabruran tidak otomatis diperoleh setelah selesai menunaikan ibadah haji. Kemabruran adalah proses yang tidak berhenti di mana ibadah haji menjadi awal dari pengamalan segala nilai dan makna yang terkandung di dalamnya sekembalinya dari Tanah Suci.
Yang jelas pribadi haji yang mabrur ditandai oleh peningkatan ketakwaan juga ditandai dengan sikap cinta dan solidaritas yang tinggi terhadap sesama, dan saling menghargai terhadap perbedaan.
Hal ini sejalan dengan pesan Rasulullah dalam khutbah wada 14 abad silam, yang perlu dikedepankan dalam hidup bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di Indonesia. Saat itu dan juga di Padang Arafah, Rasulullah SAW menyampaikan khutbah wada yang legendaris, yang menyerukan persaudaraan sesama manusia.


