Sleman – Upaya untuk memperkuat kualitas hidup para lanjut usia terus digerakkan secara masif mulai dari tingkat komunitas terkecil. Pada Selasa (6/1/2026), kader Bina Keluarga Lansia (BKL) dari RT 01 hingga RT 04 Padukuhan Ngentak, Kalurahan Pondokrejo, Tempel, Sleman, menggelar pertemuan koordinasi intensif. Agenda ini menjadi bagian penting dari penguatan pendampingan lansia yang berbasis pada ketahanan keluarga dan lingkungan.
Kegiatan yang dimulai sejak pukul 12.30 WIB tersebut mempertemukan para penggerak dalam forum BKL Cemara Ngentak Pondokrejo. Bertempat di salah satu rumah kader di RT 04, pertemuan ini tidak sekadar menjadi agenda rutin, melainkan ruang konsolidasi strategis untuk merespons berbagai tantangan nyata yang dihadapi para lansia di tingkat masyarakat saat ini.
Dalam diskusi yang berlangsung hangat, para kader membahas berbagai isu krusial mulai dari pendampingan kesehatan dasar, pencegahan isolasi sosial pada lansia, hingga penguatan peran keluarga sebagai sistem pendukung utama. Forum ini juga dimanfaatkan untuk saling berbagi praktik baik mengenai kegiatan sederhana yang mampu menjaga lansia tetap aktif, mandiri, dan merasa dihargai di lingkungan sekitarnya.
Koordinator BKL Cemara Ngentak, Jamiyatun Mufidah, menegaskan bahwa keberhasilan program BKL sangat ditentukan oleh soliditas para kader di lapangan. Menurutnya, kerja keras para kader di lingkup terkecil memiliki dampak yang signifikan terhadap kesejahteraan warga senior secara keseluruhan.
“Kita bekerja dari lingkup kecil, tetapi dampaknya sangat besar. Dengan koordinasi yang baik antar-RT, pendampingan kepada lansia bisa lebih merata dan berkelanjutan. Kader hadir bukan sebagai pengganti keluarga, melainkan sebagai penguat yang menghubungkan keluarga, lingkungan, serta program pemerintah agar lansia tetap terjaga kualitas hidupnya secara fisik maupun mental,” ujar Jamiyatun Mufidah.
Ia menambahkan bahwa tantangan pendampingan lansia saat ini tidak hanya berkaitan dengan aspek kesehatan fisik, tetapi juga aspek psikososial. Banyak lansia yang membutuhkan ruang interaksi dan perhatian lebih agar mereka tetap merasa bermakna dalam kehidupan bermasyarakat. Jamiyatun menyebut forum seperti ini sangat penting untuk menjaga semangat para relawan yang sering kali bekerja dengan keterbatasan sumber daya namun memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan warga.
“Dari pertemuan ini, kami saling belajar tentang langkah-langkah sederhana namun berdampak, seperti kunjungan rutin, kegiatan bersama, dan mendorong keluarga agar lebih aktif mendampingi orang tua mereka. Budaya peduli lansia ini harus terus kita pupuk agar menjadi nilai kebersamaan lintas generasi,” tambahnya.
Program Bina Keluarga Lansia (BKL) merupakan bagian dari agenda nasional untuk memperkuat ketahanan keluarga di tengah meningkatnya tren penduduk usia lanjut di Indonesia. Pendekatan berbasis komunitas dipandang sangat strategis karena memungkinkan pendampingan yang lebih personal dan adaptif terhadap kondisi sosial setempat. Inisiatif dari tingkat warga di Ngentak Pondokrejo ini diharapkan mampu menjadi fondasi penting bagi terciptanya lingkungan yang lebih ramah lansia di berbagai daerah lainnya. (SBD/KIM Senyum Tempel)


