Sleman – Penjabat Bupati Sleman, Ir Gatot Saptadi mengtakan bahwa kesiapsiagaan dalam penanggulangan bencana dilingkungan sekolah sangat diperlukan mengingat banyaknya sekolah yang berada di wilayah rawan bencana. Untuk itu diperlukan kerjasama antar sekolah dalam upaya pengurangan resiko bencana.
Saat ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sleman telah dan tengah terus mengembangkan sekolah siaga bencana (SSB) dalam upaya mitigasi bencana. Pemkab Sleman juga akan mengimplementasikan konsep sister school sebagai salah satu upaya dalam pengurangan resiko bencana di Kabupaten Sleman.
”Sister school merupakan salah satu aspek yang dikerjasamakan dalam Paseduluran Desa. Paseduluran Desa sendiri merupakan kesepakatan kedua wilayah desa untuk melakukan upaya kegiatan penanggulangan bencana secara bersama-sama yang didasari oleh semangat solidaritas,” kata Gatot dalam sosialisasi Pengurangan Resiko Bencana di RM Pring Sewu Jalan Magelang, Selasa (3/11).
Hadir dalam acara tersebut Kepala Sekolah/Guru, Wali Murid, Komite Sekolah, Yakum Emergency, Linkar Jogja dan Perwakilan siswa.
Menurut Gatot, latar belakang implementasi sister school adalah keinginan untuk memberikan suasana belajar mengajar yang nyaman dan layak bagi siswa didik yang sekolahnya terkena dampak dari bencana, sehingga proses belajar mengajar dapat tetap berjalan dengan efektif, yakni dengan melaksanakan kegiatan belajar mengajar dilokasi sekolah yang tidak berdampak bencana yang letaknya tidak begitu jauh dari tempat pengungsian.
Dikatakan pula bahwa dalam konsep sister school ini terdapat beberapa poin kesepakatan antar pihak yang bekerjasama yakni, kesepakatan dalam penyelengaraan kegiatan belajar mengajar, kesepakatan penggunaan sarana dan prasarana pendidikan serta kesepakatan proses evakuasi siswa.
Diharapkan melalui penerapan konsep sister school di Kabupaten Sleman ini dapat mengurangi resiko bencana yang timbul khususnya dalam bidang pendidikan, sehingga para siswa tetap dapat memperoleh haknya untuk mengenyam pendidikan secara baik dan layak walaupun sedang dalam kondisi bencana.
Selain upaya yang dilakukan melalui implementasi mitigasi bencana diperlukan pula kerjasama yang baik antara semua pihak baik pemerintah, swasta dan masyarakat dalam upaya mensukseskan upaya pengurangan resiko dimakasud, karena kerjasama semua pihak baik pemerintah, swasta dan tentu saja masyarakat merupakan formulasi yang sangat diperlukan dalam rangka meminimalisir resiko bencana di Kabupaten Sleman.
Oleh karena itu lanjut Gatot, pada semua pihak dihimbau untuk mau dan mampu bekerja sama dalam upaya pengurangan resiko bencana di Kabupaten Sleman, dengan menyatukan langkah dan tujuan, merapatkan barisan serta mengukuhkan tekad dalam upaya mitigasi bencana sehingga dapat tumbuh kesolidan dalam upaya kesiapsiagaan dan pengurangan resiko bencana di Kabupaten Sleman.
Sementara Kepala BPBD .Sleman, Julisetiono Dwi Wasito SH MM mengatakan penyelenggaraan bahwa Erupsi Gunung Merapi Tahun 2010 memberikan pengalaman dan pelajaran bagi stakeholder penanggulanan bencana.
Salah satu dampak yang terjadi hancurnya sekolah dan tidak berjalannya kegiatan proses belajar mengajar, sehingga menuntut pemerintah untuk membangun sekolah-sekolah darurat demi anak didik tetap belajar.
Dari pengalaman tersebut di atas maka BPBD Sleman mengajukan usulan kegiatan Sister School ke BNPB guna kelangsungan proses Kegitan Belajar Mengajar saat kondisi darurat. Sister School adalah kegiatan mempersaudarakan Sekolah Siaga Bencana yang berada di daerah rawan Bencana Erupsi Gunung Merapi.
Pembangunan Sister School untuk tahun 2015 ada 20 sekolahan, di 5 Kecamatan dan 10 Desa Rawan Bencana Merapi. Fasilitasi 10 Pasang sekolah yang terpilih terdiri pertama SMP Taman Dewasa Cangkringan dengan SMK N Cangkringan, kedua SD Gungan dengan SD Umbulwidodo, Ketiga SD Kloposawit dengan SMP N 1 Turi, Keempat SD Glagaharjo dengan SD Bronggrang, Kelima SD Muh.Cepitsari dengan SD Kejambon 2 dengan pertemuan sebanyak 8 kali 25 orang, sampai dengan gladi.
Untuk SD Muh.Balerante dengan SMAN 1 Pakem, SMK Muh.Pakem dengan SMK Muh.1 Sleman, SMA N 1 Cangkringan dengan SMAN 1 Pakem, SD N Banyurip 1 dengan SDN 1 Turi, SDN Cancangan dengan SDN Kiyaran 2. Dengan pertemuan 4 Kali 25 orang sampai dengan Dokumen Rekonti.
Pelaksanaan pelatihan Relawan Sekolah dengan peserta 100 orang 3 hari dan gladi di masing-masing sekolah dengan peserta 100 orang. Waktu pelaksanaan 8 pertemuan di Bulan November, sementara untuk pelaksanaan fasilitasi di sekolah tempat pelaksanaan berada di masing-masing sekolah.


