Sleman — Hartono merupakan sosok pelaku wisata yang jeli membaca perubahan perilaku pasar di era modern. Ia menyadari sepenuhnya bahwa wisatawan masa kini tidak lagi cukup hanya disuguhi pemandangan indah atau sekadar spot foto untuk media sosial. Kesadaran itulah yang kemudian melahirkan konsep wisata edukasi yang ia kembangkan secara konsisten hingga berhasil membangun tujuh destinasi wisata edukasi di berbagai daerah.
Empat destinasi garapannya berada di Kabupaten Kulon Progo, yaitu Dolan Ndeso di Boro, Wana Delima di Pengasih, Omah Penthul di Wates, dan Ono Kaline di Kalibawang. Satu destinasi berada di Kabupaten Sleman, yakni Kali Klangsi di Seyegan, sementara dua lainnya berlokasi di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, dengan fokus pada edukasi hutan dan mangrove. Tema utama yang diusung meliputi lingkungan, pertanian, dan perkebunan yang dikemas dalam paket kegiatan berbasis pengalaman langsung.
Saat ditemui di kediamannya di Babrik Jamblangan, Margomulyo, Seyegan, Sleman pada Jumat (16/1/2026), Hartono menjelaskan bahwa inti dari wisata edukasi adalah keterlibatan fisik dan emosional pengunjung. Menurutnya, nilai pembelajaran akan berkurang jika wisatawan hanya menjadi penonton pasif tanpa menyentuh objek yang dipelajari.
“Orang datang ke desa wisata itu bukan cuma mau lihat-lihat atau foto. Mereka ingin pulang membawa pengalaman nyata. Wisata edukasi itu harus bisa disentuh dan dilakukan sendiri oleh pengunjung. Kalau cuma dilihat saja, nilai belajarnya kurang meresap,” ujar Hartono memberikan penjelasan mengenai prinsip dasar usahanya.
Salah satu segmen pasar paling potensial yang ia garap adalah dunia pendidikan, mulai dari jenjang PAUD hingga SMA, melalui program pembelajaran luar ruang atau outdoor learning. Hartono melihat sekolah membutuhkan ruang alternatif untuk pembentukan karakter siswa yang tidak bisa didapatkan di dalam kelas. Baginya, desa memiliki segala sumber daya yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan kurikulum tersebut.
“Sekolah itu sebenarnya pasar yang sangat jelas dan berkelanjutan. Mereka butuh tempat belajar di luar kelas untuk membentuk karakter siswa, dan desa punya semua materi itu secara alami,” ungkap Hartono.
Dalam menjalankan roda bisnisnya, Hartono menerapkan sistem manajemen yang ramping namun berdampak luas. Ia hanya mempekerjakan empat orang staf inti untuk menangani keuangan, administrasi, pengelolaan tamu, serta paket fasilitas. Untuk operasional lapangan, ia menggandeng mitra lokal agar manfaat ekonomi menyebar ke masyarakat. Pemandu wisata diambil dari warga setempat, karang taruna dilibatkan dalam aktivitas lapangan, sementara kelompok ibu-ibu mengelola sektor kuliner.
“Saya tidak mungkin mengerjakan semuanya sendiri. Justru kekuatan wisata edukasi itu ada pada keterlibatan warga desa. Jika warga mendapatkan manfaat ekonomi secara langsung, maka destinasi wisata tersebut akan dijaga bersama-sama oleh masyarakat. Manajemen kami harus ramping, tapi dampaknya harus luas ke lingkungan sekitar,” tegasnya.
Sebagai strategi andalan, Hartono menerapkan konsep bisnis yang ia sebut sebagai single product-multi income. Konsep ini menitikberatkan pada penjualan proses sebagai bagian dari edukasi. Pengunjung tidak hanya belajar menanam, tetapi juga didorong untuk membeli bibit, pupuk, hingga pakan ternak. Dengan demikian, pendapatan tidak hanya bersumber dari tiket masuk, tetapi dari seluruh rangkaian aktivitas yang dilakukan pengunjung.
“Yang kami jual bukan cuma hasil akhir, tapi proses belajarnya. Pengunjung membeli bibit atau pakan karena mereka terlibat dalam prosesnya. Di situlah nilai ekonomi tambahan muncul secara organik,” kata Hartono menjelaskan rahasia dapur bisnisnya.
Meski sukses, Hartono mengakui bahwa tantangan terbesar adalah melakukan adaptasi terhadap masyarakat desa yang memerlukan waktu dan dialog panjang. Ia menegaskan bahwa pengembangan wisata tidak boleh merusak tatanan sosial yang sudah ada di desa. Baginya, kelestarian kehidupan sosial masyarakat adalah fondasi utama agar sebuah destinasi wisata bisa bertahan dalam jangka panjang dan tetap diminati wisatawan. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)


