Pompa Hidram Sonoharjo, Inovasi Mandiri Angkat Air Tanpa Listrik

Sleman — Di balik sebuah rumah sederhana di RT 06/23 Sonoharjo, Kalurahan Margokaton, Kapanewon Seyegan, mengalir gagasan besar tentang kemandirian air. Dari sumber mata air yang berada lebih rendah, Supriyono berhasil menaikkan air ke permukiman dan kolam ikan tanpa listrik, tanpa bahan bakar, dan tanpa emisi, hanya mengandalkan hukum alam.

Teknologi yang digunakan dikenal dengan pompa hidram (hydraulic ram pump), sebuah alat sederhana yang bekerja memanfaatkan energi potensial air dan tekanan hentakan hidrolik (water hammer). Ketertarikan Supriyono pada teknologi ini berangkat dari kebutuhan nyata di lingkungan sekitarnya. Kolam ikan yang ia kelola bersama warga berada lebih tinggi dari sumber mata air, sementara penggunaan pompa listrik dinilai mahal dan tidak ramah lingkungan.

“Saya melihat potensi mata air di belakang rumah, tapi letaknya lebih rendah dari kolam ikan warga. Dari situ saya berpikir bagaimana caranya air bisa naik dengan biaya semurah mungkin,” tutur Supriyono.

Pencarian solusi tersebut dimulai sejak tahun 2008. Selama bertahun-tahun, Supriyono melakukan berbagai percobaan, merakit, serta menyempurnakan desain pompa hingga akhirnya sistem hidram benar-benar dapat diandalkan. Kini, di wilayah Kapanewon Seyegan telah terdapat empat titik pompa hidram yang aktif, masing-masing berada di Padukuhan Sonoharjo, Grajegan, dan Somokaton, tiga padukuhan yang berada di wilayah Kalurahan Margokaton.

Saat ditemui di lokasi pompa, Selasa (27/1/2026), Supriyono menjelaskan bahwa sistem pompa hidram memerlukan bak penenang sebagai bagian penting dari instalasi. Bak ini berfungsi menstabilkan aliran air sebelum masuk ke pipa pompa sekaligus menyaring sampah agar tekanan air tetap optimal.

“Kalau airnya beriak atau banyak gelembung udara, tekanannya jadi turun. Bak penenang ini penting supaya kerja pompa maksimal,” jelasnya. Berkat pengalamannya, Supriyono kerap menjadi narasumber dalam berbagai kegiatan terkait pemanfaatan air menggunakan pompa hidram.

Meski tergolong teknologi tepat guna, pompa hidram tidak lepas dari tantangan. Pada musim kemarau, debit air yang menurun menjadi kendala utama. Selain itu, kebiasaan sebagian masyarakat membuang sampah ke badan air serta masuknya siput atau keong ke dalam klep pompa kerap mengganggu kinerja alat.

Namun keterbatasan tersebut tidak memadamkan semangat Supriyono. Ia justru melihat peluang besar untuk pengembangan ke depan. Wilayah Seyegan yang kerap menjadi lokasi Kuliah Kerja Nyata (KKN) mahasiswa dinilai memiliki potensi besar sebagai laboratorium lapangan.

“Saya berharap suatu saat pompa hidram ini bisa menjadi objek penelitian, supaya ada masukan untuk pengembangannya,” ujarnya.

Tak berhenti pada pemompaan air, Supriyono juga memendam mimpi lanjutan untuk memanfaatkan aliran air yang sudah dinaikkan sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) skala kecil. Meski sederhana, ia berharap gagasan tersebut dapat menjadi prototipe pemanfaatan energi air yang berkelanjutan.

Di tengah tantangan krisis air dan energi, keberadaan pompa hidram di Sonoharjo menjadi bukti bahwa inovasi tidak selalu lahir dari laboratorium besar. Kadang, ia tumbuh dari halaman rumah, dari kegigihan seorang warga yang memilih berdamai dengan alam dan memanfaatkannya secara bijak. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)

image_pdfimage_print
Bagikan: