Sleman – Memasuki musim hujan yang diperkirakan tiba sekitar pertengahan November, masyarakat diimbau waspada resiko pohon tumbang. Sejak dini perlu dilakukan upaya antisipasi dengan memangkas pohon yang dirasa rawan roboh.
“Masyarakat perlu waspada karena kejadian pohon tumbang tahun lalu cukup tinggi,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Julisetiono Dwi Wasito, Senin (9/11).
Sepanjang tahun 2014 setidaknya ada 60 kali peristiwa pohon tumbang di wilayah Kecamatan Sleman, Seyegan, Mlati, Pakem, dan Moyudan. Bahkan pada bulan April tahun lalu, sekitar 400 batang pohon roboh dalam satu kali keadian bencana.
Namun dalam hal pemangkasan pohon ini, masyarakat diingatkan agar tetap berpedoman pada aturan pelestarian lingkungan. Pohon yang dipangkas tidak boleh sembarangan, tapi dipilih yang kondisinya rawan. Semisal daunnya sangat lebat, batangnya terlalu tinggi atau sudah keropos.
Kabid Kebersihan dan Pertamanan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Sleman, Indra Darmawan menambahkan, pihaknya sudah mulai melakukan perabasan pohon yang tergolong beresiko tinggi.
“Kami ada tim yang menilai faktor resiko. Tim sudah bergerak di beberapa kecamatan,” ujarnya.
Selain hasil penilaian tim, penentuan titik pohon yang akan dipangkas juga didasarkan pengalaman tahun sebelumnya. Jika suatu daerah pernah ada kejadian pohon tumbang maka akan disisir. Dalam kegiatan ini, pihaknya bekerjasama dengan BPBD. Dari data yang dimiliki Pemkab, jumlah pohon perindang di wilayah Sleman ada sekitar 22 ribu batang. Pendataan sementara yang termasuk kategori rawan dan perlu secepatnya ditebang ada 50 batang.
“Kalau masyarakat punya info pohon yang perlu dipangkas, bisa melapor kepada kami. Petugas akan menindaklanjuti,” ujar Indra.
Sebagai bentuk edukasi kepada masyarakat, pihaknya rutin mengadakan sosialisasi termasuk tentang cara identifikasi pohon yang layak dipangkas. Disisi lain Julisetiono juga mengingatkan masyarakat di wilayah Kabupaten Sleman untuk lebih peduli kebersihan drainase dan lingkungan, karena banjir air permukaan masih menjadi ancaman pada musim hujan.
Menurut Julisetiono ancaman banjir air permukaan di Sleman berdasarkan pengamatan BPBD sudah terjadi pada seluruh wilayah, terlebih jika turun hujan lebat dalam waktu relatif lama. Dikatakan genangan air dalam kapasitas cukup besar selalu muncul di kawasan jalan lingkar utara, jalan Colombo, jalan Kaliurang, serta kawasan jalan Laksda Adisucipto.
“Kami ingatkan agar masyarakat jangan membuang sampah sembarangan di sungai. Pengalaman kita, ketika air sungai meluap ternyata di situ tersumbat sampah rumah tangga. Ini perlu disikapi oleh kita semua”, ujarnya.
Khusus ancaman banjir lahar dinngin, dijelaskan Julisetiono Pemkab Sleman juga melakukan perhatian serius dengan penyiagaan sistem peringatan dini dan pemberdayaan komunitas radio komunikasi, maupun sosialisasi ke masyarakat kawasan rawan banjir lahar dingin.


