Sadranan Agung Nitiprojo Pererat Silaturahmi dan Lestarikan Tradisi Leluhur

Sleman — Tradisi Sadranan Agung Tumenggung Nitiprojo digelar dengan penuh khidmat di serambi Masjid Al Ittihad Gerjen. Kegiatan tersebut berlangsung selama dua hari, Jumat-Sabtu (13–14/2/2026). Acara tahunan ini menjadi momentum kebersamaan warga sekaligus wujud penghormatan kepada leluhur.

Rangkaian acara diawali pada Jumat (13/2/2026) dengan Tahlil dan Pengajian Birul Walidain yang disampaikan oleh KH. Nur Jamil. Selanjutnya pada Sabtu (14/2/2026), puncak Sadranan Agung diisi pengajian Birul Walidain oleh KH. Lubait Said dari Tempuran, Magelang.

Sadranan Agung merupakan tradisi Jawa yang dilaksanakan pada bulan Ruwah (Sya’ban) dalam kalender Hijriah. Tradisi ini bertujuan untuk menghormati leluhur, membersihkan makam, serta mempererat tali silaturahmi antarwarga. Di Nitiprojo, kegiatan ini menjadi agenda tahunan yang selalu diselenggarakan secara meriah dan sarat makna.

Selain pengajian sebagai kegiatan inti, rangkaian acara juga meliputi ziarah makam leluhur dan kebersamaan warga. Sesepuh warga, Sugeng Nugroho, dalam sambutannya menyampaikan bahwa Sadranan Agung merupakan wujud syukur kepada Tuhan atas kesehatan sekaligus bentuk penghormatan kepada leluhur serta upaya nguri-uri budaya.

“Sadranan Agung ini bukan sekadar tradisi turun-temurun, tetapi juga sarana memperkuat rasa handarbeni antarwarga,” ujar Sugeng. Kalau bukan kita yang menjaga budaya ini, siapa lagi yang akan meneruskan kepada anak cucu kita,” ujar Sugeng.

Selanjutnya, Lurah Margomulyo, Eko Puji Mulyanto menuturkan bahwa mengusung tema “Ngaruat leluhur ngraketake paseduluran”, kegiatan ini menjadi simbol persatuan warga.

“Kegiatan ini menjadi simbol persatuan warga dan pelestarian kearifan lokal agar tidak tergerus arus modernisasi,” tandasnya.

Sementara itu, dalam tausiyahnya, KH. Lubait Said selaku penceramah menekankan bahwa makna silaturahmi dalam tradisi Sadranan atau Nyadran sangat mendalam.

“Silaturahmi dalam Sadranan ini adalah ikhtiar menyambung yang terputus, merekatkan yang renggang, dan menguatkan yang sudah terjalin. Ketika kita mendoakan leluhur, sesungguhnya kita sedang menanam kebaikan untuk generasi setelah kita,” jelasnya.

Tradisi ini menjadi ajang berkumpulnya kembali warga desa, baik yang menetap maupun yang merantau. Jika dahulu kebersamaan ditandai dengan kembul bujono atau makan bersama. Maka dalam beberapa tahun terakhir panitia menggantinya dengan pembagian berkat berupa bahan makanan seperti beras, telur, mi instan, dan gula pasir. Seluruhnya berasal dari swadaya masyarakat sebagai simbol persamaan derajat, gotong royong, dan berbagi rezeki.

Selanjutnya ziarah kubur atau besik juga menjadi bagian penting dalam tradisi ini. Warga membersihkan makam leluhur dan mendoakan arwah agar mendapat tempat mulia di sisi Tuhan, sekaligus sebagai pengingat akan kematian dan pentingnya menjaga amal kebaikan. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)

image_pdfimage_print
Bagikan: