Konferensi Anak Cabang Fatayat NU Tempel, Atik Robikah Rahayu Pimpin Periode 2026–2030

Sleman – Regenerasi kepemimpinan organisasi perempuan muda kembali menunjukkan dinamika positif. Melalui Konferensi Anak Cabang Fatayat Nahdlatul Ulama tingkat kapanewon yang digelar di Aula MAN 5 Sleman, Kapanewon Tempel, Senin (16/2/2026), kepemimpinan resmi beralih dari Sri Amanah kepada Atik Robikah Rahayu untuk masa khidmat 2026–2030.

Konferensi yang dihadiri jajaran Muspika Kapanewon Tempel serta pengurus badan otonom NU di wilayah tersebut menjadi momentum konsolidasi kader sekaligus penegasan arah gerakan organisasi otonom perempuan muda di bawah naungan Nahdlatul Ulama.

Mengusung tema “Sinergi Kader Fatayat: Tangguh Hadapi Tantangan, Ikhlas Berkhidmat untuk Umat,” forum ini menyoroti pentingnya kesinambungan kepemimpinan dan penguatan peran perempuan dalam ruang sosial, pendidikan, serta pemberdayaan masyarakat.

Dalam sambutannya, Sri Amanah menegaskan bahwa kepemimpinan bukan sekadar jabatan, melainkan amanah perjuangan.

“Organisasi ini tumbuh karena kerja kolektif kader. Saya percaya kepemimpinan baru akan membawa energi segar untuk melanjutkan program yang telah dirintis,” ujarnya.

Ia juga mengajak seluruh anggota untuk menjaga soliditas dan semangat khidmat sebagai fondasi gerakan perempuan muda berbasis nilai keagamaan dan sosial.

Sementara, Ketua terpilih, Atik Robikah Rahayu, menekankan pentingnya inovasi program yang adaptif terhadap perubahan zaman.
“Fatayat harus hadir menjawab kebutuhan masyarakat hari ini, mulai dari pemberdayaan perempuan, pendidikan keluarga, hingga penguatan literasi sosial. Amanah ini bukan tugas pribadi, melainkan tanggung jawab bersama,” katanya.

Menurutnya, kolaborasi lintas sektor menjadi strategi utama agar organisasi tetap relevan dan berdampak luas, tidak hanya di tingkat lokal tetapi juga dalam jejaring nasional kader perempuan muda.

Panewu Tempel, Dakiri dalam sambutannya menilai konferensi anak cabang memiliki arti strategis dalam menjaga kesinambungan kepemimpinan dan kaderisasi.


“Selain memilih pengurus, forum ini menjadi ruang evaluasi program serta penyusunan agenda kerja jangka panjang yang selaras dengan kebutuhan masyarakat,” ujarnya.

Dalam konteks yang lebih luas, dinamika organisasi perempuan berbasis komunitas dinilai berkontribusi besar terhadap penguatan partisipasi publik, khususnya di bidang pendidikan keluarga, kesehatan masyarakat, dan advokasi sosial.

Dengan kepemimpinan baru, kader Fatayat diharapkan mampu memperluas gerakan sosial yang inklusif dan responsif terhadap tantangan zaman. Regenerasi ini sekaligus menegaskan bahwa organisasi perempuan muda terus memainkan peran penting sebagai motor perubahan di tengah masyarakat.

Konferensi ditutup dengan doa bersama serta komitmen kolektif kader untuk melanjutkan perjuangan organisasi, menandai babak baru kepemimpinan yang diharapkan membawa inspirasi bagi gerakan perempuan di berbagai daerah di Indonesia.

(SBD KIM SENYUM TEMPEL)

image_pdfimage_print
Bagikan: