Sleman — Rasanya kurang lengkap berbuka puasa tanpa kehadiran kolang kaling. Buah dari pohon aren yang berwarna putih transparan, berbentuk lonjong, dan bertekstur kenyal setelah direbus ini selalu menjadi pelengkap aneka hidangan Ramadan, mulai dari es buah, kolak, hingga disantap langsung sebagai camilan segar.
Selain menyegarkan, kolang kaling juga dikenal kaya manfaat. Kandungan airnya yang mencapai lebih dari 90 persen menjadikannya baik untuk menjaga hidrasi tubuh. Buah ini juga mengandung serat tinggi, kalium, kolagen, serta antioksidan yang bermanfaat untuk kesehatan pencernaan, membantu mengurangi nyeri sendi, menyehatkan kulit, dan menguatkan tulang. Dengan nutrisi tinggi dan kalori yang relatif rendah, kolang kaling juga dipercaya membantu menurunkan kolesterol, mengontrol gula darah, serta meningkatkan daya tahan tubuh.
Namun, keberadaan kolang kaling di pasaran terbilang musiman. Buah ini relatif sulit ditemukan pada hari-hari biasa dan cenderung muncul saat Ramadan.
“Saya hanya menjual kolang kaling pada bulan puasa, karena peminatnya banyak. Sehari bisa 15 kilo,” ujar Catur, salah satu pedagang kolang kaling di Pasar Tegalsari, Sendangtirto, Berbah, Sleman, Kamis (19/2/2026).
Catur menuturkan, dirinya bersama puluhan pedagang lain telah bertahun-tahun berjualan di Pasar Tegalsari yang hanya buka saat hari pasaran Paing dalam penanggalan Jawa. Karena itu, pasar ini dikenal masyarakat sebagai “Pasar Paing”.
“Selain pasaran Paing, kami berjualan di Pasar Wage yang jaraknya sekitar tiga kilometer ke arah timur dari Pasar Tegalsari,” ujarnya.
Untuk mendapatkan kolang kaling siap olah, Catur membelinya dari Pasar Giwangan. Ia menjelaskan bahwa proses pengolahan kolang kaling dari pohon aren memerlukan tahapan panjang.
Tandan aren yang sudah tua dipanen dan dipisahkan dari tandannya, kemudian direbus dalam air mendidih atau dibakar selama kurang lebih dua jam untuk menghilangkan getah yang menimbulkan rasa gatal. Setelah dingin, buah dikupas untuk diambil bagian berwarna putih, lalu dicuci bersih dan direndam sekitar empat hari.
Selanjutnya, kolang kaling dicuci kembali hingga lendirnya hilang. Kemudian dimasak hingga menghasilkan tekstur yang lembut, kenyal, serta tidak berlendir dan tidak gatal.
“Pada tahap inilah kolang kaling siap dimasak untuk berbagai jenis makanan,” jelasnya.
Kehadiran kolang kaling yang kembali meramaikan lapak-lapak pasar rakyat menjadi penanda khas datangnya Ramadan. Di tengah geliat pasar tradisional, buah sederhana ini tak sekadar pelengkap hidangan berbuka, tetapi juga sumber penghidupan musiman bagi para pedagang. (Kusnadi KIM Berbah)


