Sleman — Badan Koordinasi (Badko) TKA-TPA Kapanewon Seyegan mulai mengintensifkan kunjungan edukatif ke sejumlah masjid di wilayah Seyegan menjelang dan selama bulan Ramadan 1447 Hijriah. Program yang dilaksanakan setiap hari Sabtu dan Minggu ini bertujuan untuk memperkuat kualitas pendidikan Al-Qur’an melalui metode pengajaran yang lebih segar. Tim Badko bergerak secara simultan dengan membagi personel ke empat masjid berbeda setiap harinya untuk menjangkau lebih banyak unit Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA).
Salah satu agenda kunjungan berlangsung di Masjid At-Taufiq PMA Jamblangan, Margomulyo, pada Sabtu (21/2/2026). Dalam pertemuan tersebut, tim yang dipimpin oleh Yunan Purwanto memperkenalkan sekaligus mempraktikkan metode pembelajaran Bermain, Cerita, dan Menyanyi (BCM). Metode ini dinilai sangat efektif untuk menjaga antusiasme anak-anak usia dini hingga sekolah dasar dalam mendalami ilmu agama, terutama saat menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan.
Yunan Purwanto menegaskan bahwa kehadiran pengurus Badko di tengah-tengah unit TPA bukan untuk mendikte para pengajar lokal, melainkan sebagai ruang kolaborasi. Menurutnya, ustadz dan ustadzah di tingkat masjid memerlukan pembaruan teknik mengajar agar santri tidak merasa jenuh. Sebagai organisasi yang mengoordinasikan pendidikan nonformal keagamaan, Badko memikul tanggung jawab besar dalam memastikan kurikulum baca-tulis Al-Qur’an dan dasar-dasar Dinul Islam disampaikan dengan cara yang tepat.
“Kunjungan ini bukan untuk menggurui teman-teman pengasuh yang selama ini sudah luar biasa mendampingi santri, tetapi lebih sebagai sarana berbagi dan saling menguatkan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran TPA. Sebagai lembaga, kami memiliki tanggung jawab dalam pengembangan kurikulum dan peningkatan kapasitas pengajar agar proses belajar mengajar semakin berkualitas dan tidak membosankan bagi anak-anak,” ujar Yunan Purwanto di hadapan para pengajar TPA.
Dalam sesi praktik lapangan, suasana Masjid At-Taufiq berubah menjadi ceria saat Dian Navitri, yang dikenal sebagai pendongeng, mulai berinteraksi dengan anak-anak. Dengan gaya yang ekspresif, ia menunjukkan bagaimana materi keagamaan yang berat bisa disederhanakan melalui narasi cerita dan lagu. Teknik ini tidak hanya menarik perhatian santri, tetapi juga menjadi contoh nyata bagi para ustadz dan ustadzah tentang cara mengelola kelas yang interaktif selama bulan Ramadan.
“Metode BCM membuat anak-anak lebih mudah memahami materi karena mereka belajar sambil bermain, mendengar cerita, dan bernyanyi. Dengan pendekatan ini, suasana kelas menjadi lebih hidup dan menyenangkan bagi santri. Kami ingin memberikan kesan bahwa belajar agama itu membahagiakan, sehingga mereka selalu rindu untuk datang ke masjid,” ungkap Dian Navitri di sela kegiatannya bersama para santri.
Selain pengenalan metode BCM, rangkaian kegiatan Badko Seyegan selama Ramadan juga mencakup program Ramadhan Ceria, kursus tartil Al-Qur’an, hingga penyaluran santunan bagi anak yatim. Agenda ini menjadi pemanasan sebelum memasuki kegiatan besar lainnya seperti Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) dan wisuda santri bersama. Melalui program ini, Badko Seyegan berharap kualitas spiritualitas anak-anak di wilayah tersebut dapat meningkat seiring dengan peningkatan kompetensi para pengajarnya. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)


