Sleman — Pemerintah Kapanewon Seyegan bersama Puskesmas Seyegan resmi menetapkan penguatan pelayanan kesehatan yang inklusif sebagai agenda prioritas tahun 2026. Melalui forum Lokakarya Mini Lintas Sektor (Lokmin Linsek) yang digelar di Ruang Rapat Puntadewa Kapanewon Seyegan pada Kamis (26/2/2026), disepakati bahwa implementasi program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan Integrasi Layanan Primer (ILP) menjadi kunci utama dalam mewujudkan keadilan akses kesehatan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Pertemuan strategis ini dihadiri oleh jajaran pimpinan wilayah, mulai dari Panewu, perwakilan Polsek, Korwil Pendidikan, hingga para lurah dan kader kesehatan se-Kapanewon Seyegan. Fokus utama pembahasan adalah mengevaluasi capaian tahun sebelumnya sekaligus merumuskan solusi atas tantangan kesehatan wilayah, termasuk kewaspadaan terhadap potensi peningkatan kasus leptospirosis dan demam berdarah di tengah musim penghujan.
Panewu Seyegan, Agung Endarta, menegaskan bahwa pembangunan kesehatan tidak bisa hanya bertumpu pada pundak tenaga medis, melainkan membutuhkan peran aktif seluruh pemangku kepentingan. Koordinasi lintas sektor dipandang sebagai mesin penggerak untuk menyinkronkan program antara pemerintah kapanewon, kalurahan, hingga lembaga sosial masyarakat. Ia berharap forum ini menjadi wadah diseminasi yang efektif agar setiap kebijakan kesehatan dapat terimplementasi hingga tingkat dusun.
“Pembangunan kesehatan masyarakat membutuhkan peran aktif dari kita semua, mulai dari puskesmas, instansi pemerintah, hingga masyarakat luas. Pertemuan ini menjadi forum untuk mengidentifikasi permasalahan di lapangan dan merumuskan solusi bersama. Kami ingin memastikan sinergi antara kapanewon, kalurahan, dan para kader kesehatan berjalan harmonis demi meningkatkan kualitas hidup warga Seyegan,” ujar Agung Endarta dalam arahannya.
Kepala Puskesmas Seyegan, Reni Anjarasmarani, memaparkan bahwa visi puskesmas pada tahun 2026 adalah mewujudkan pelayanan yang adil dengan indikator capaian standar pelayanan minimal bagi kelompok rentan di atas 90 persen. Salah satu terobosan yang diunggulkan adalah program CKG, di mana masyarakat dapat melakukan pemeriksaan tekanan darah, gula darah, hingga indeks massa tubuh tanpa biaya. Program ini dilaksanakan secara jemput bola melalui skrining rutin di dalam gedung maupun layanan terpadu di tingkat dusun.
“Kami ingin memastikan seluruh masyarakat, termasuk kelompok rentan dan warga kurang mampu dengan akses terbatas, mendapatkan hak pemeriksaan kesehatan sejak dini. Melalui Cek Kesehatan Gratis, kita dapat mendeteksi lebih awal penyakit tidak menular seperti hipertensi dan diabetes, sehingga penanganannya bisa lebih cepat dan tepat sebelum menjadi kronis,” tutur Reni Anjarasmarani di hadapan para peserta lokakarya.
Selain deteksi dini, Puskesmas Seyegan mulai menerapkan Integrasi Layanan Primer (ILP) sebagai langkah transformasi sesuai arahan Kementerian Kesehatan. Melalui sistem ILP, pelayanan dikelompokkan berdasarkan siklus hidup, mulai dari bayi hingga lansia, sehingga proses medis menjadi lebih efisien dan terkoordinasi. Pendekatan ini memungkinkan pasien mendapatkan berbagai layanan sekaligus dalam satu kunjungan tanpa harus berpindah-pindah poli, yang secara langsung mengurangi ketimpangan akses bagi masyarakat.
Penerapan sistem baru ini diharapkan mampu memperkuat kolaborasi antarprogram kesehatan, mulai dari imunisasi, gizi, hingga layanan kesehatan ibu dan anak. Dengan komitmen yang telah disepakati dalam rencana kerja tindak lanjut tersebut, Puskesmas Seyegan diproyeksikan tetap menjadi garda terdepan dalam memberikan layanan kesehatan yang merata dan berorientasi pada pencegahan penyakit bagi seluruh masyarakat Seyegan. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)


