Sleman — Pemerintah Daerah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melalui Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan sukses melaksanakan panen raya pada program pengembangan Kampung Peramalan atau Forecasting Smart Eco Village (FSEV) di Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Sleman, Sabtu (7/3/2026). Penerapan teknologi peramalan organisme pengganggu tanaman ini terbukti ampuh meningkatkan produktivitas padi di tengah tantangan perubahan iklim yang ekstrem.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY, Aris Eko Nugroho, mengungkapkan bahwa transformasi digital di sektor pertanian kini menjadi kebutuhan mendesak. Wilayah Sumbersari yang selama ini dikenal sebagai daerah endemis serangan hama tikus, kini menjadi laboratorium hidup penerapan teknologi Disruptive Agriculture Technology (DAT). Melalui sistem P3OPT (Pengamatan, Peramalan, dan Pengendalian), petani tidak lagi bertindak setelah hama menyerang, melainkan melakukan mitigasi sejak dini berdasarkan data akurat.
Hasilnya pun cukup signifikan. Berdasarkan data ubinan pada musim panen kali ini, produktivitas padi di lahan demplot mencapai 7,53 ton per hektare. Angka tersebut menunjukkan kenaikan sebesar 10,73 persen dibandingkan musim tanam sebelumnya yang hanya menghasilkan 6,8 ton per hektare. Peningkatan ini membuktikan bahwa efisiensi pengendalian hama berbasis data mampu menekan angka kehilangan hasil panen secara efektif.
“Penerapan teknologi dalam dunia pertanian bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Melalui teknologi peramalan, petani dapat selangkah lebih maju dalam mengantisipasi serangan hama. Pengendalian kini dilakukan secara lebih efektif, terencana, dan berkelanjutan, bukan lagi sekadar reaksi setelah kerusakan terjadi,” ujar Aris Eko Nugroho saat memberikan keterangan di lokasi panen.
Program FSEV ini merupakan buah kolaborasi strategis antara Pemda DIY dengan Kementerian Pertanian melalui Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBPOPT). Menariknya, selain menggunakan alat modern seperti combine harvester untuk efisiensi panen, program ini tetap mengedepankan prinsip ramah lingkungan. Hal ini diwujudkan melalui konservasi burung hantu Tyto alba sebagai predator alami tikus, yang menjadi ruh dari konsep eco village.
Aris juga memberikan instruksi khusus kepada para petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT) dan penyuluh lapangan di Moyudan untuk terus mendampingi petani. Ia berharap paradigma pertanian presisi ini tidak hanya berhenti di kelompok demplot, tetapi meluas ke seluruh petani di wilayah Sleman dan DIY. Petani yang terlibat dalam program ini diharapkan menjadi pelopor yang menularkan ilmu peramalan hama kepada rekan sejawatnya.
“Kami berkomitmen untuk terus mendukung inovasi yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani. Model Kampung Peramalan di Sumbersari ini akan menjadi percontohan nasional yang harapannya bisa direplikasi di wilayah endemis lainnya di seluruh DIY. Jika sistem peramalan ini kuat, ketahanan pangan daerah kita pun akan semakin kokoh,” tambahnya.
Dengan suksesnya panen di Sumbersari, Pemda DIY optimis bahwa integrasi antara teknologi digital, mekanisasi pertanian, dan kearifan lokal dalam menjaga ekosistem akan menjadi kunci utama kedaulatan pangan di masa depan. Pendekatan ini diharapkan mampu memberikan kepastian hasil bagi petani sekaligus menjaga stabilitas pasokan pangan daerah. (Giek/KIM Moyudan)


