Sleman — Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, mempertegas posisi strategis pengurus lingkungan tingkat akar rumput sebagai fondasi utama tata kelola pemerintahan desa. Dalam agenda yang digelar di ruang pertemuan Kalurahan Margorejo, Sabtu (14/3/2026), sebanyak 81 ketua RT dan 30 ketua RW dari 14 padukuhan diberikan pembekalan kapasitas sekaligus penyaluran insentif sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi mereka.
Langkah ini diambil untuk memastikan pelayanan publik tetap berjalan prima dan responsif terhadap kebutuhan warga. Sebagai garda terdepan, pengurus RT dan RW memegang peranan krusial tidak hanya dalam urusan administratif, tetapi juga sebagai penjaga harmoni sosial dan penghubung utama antara kebijakan pemerintah kalurahan dengan denyut kehidupan masyarakat sehari-hari.
Jogoboyo Margorejo, Farhan Mei Ustadza, menjelaskan bahwa pemberian insentif sebesar Rp600 ribu yang bersumber dari Alokasi Dana Desa (ADD) dan bagi hasil pajak merupakan bentuk pengakuan negara atas kerja keras para aparatur kewilayahan. Menurutnya, mereka adalah pihak pertama yang menghadapi berbagai persoalan sosial, mulai dari keluhan warga hingga penyampaian aspirasi pembangunan di tingkat lokal.
“Insentif ini bukan semata bantuan administratif, melainkan bentuk pengakuan atas dedikasi para ketua RT dan RW yang setiap hari bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat. Mereka bekerja di garis depan, sering kali menjadi pihak pertama yang menerima keluhan, aspirasi, hingga persoalan sosial di lingkungan. Penguatan ini penting untuk menjaga daya hidup komunitas dan kecepatan respons terhadap persoalan warga,” ujar Farhan Mei Ustadza.
Senada dengan hal tersebut, Lurah Margorejo, Abdul Azis Muh Ridwan, menekankan bahwa keberhasilan program pemerintah sangat bergantung pada kekuatan jaringan komunikasi di tingkat bawah. Ia menilai RT dan RW adalah simpul informasi yang memastikan program-program strategis dapat tersampaikan dengan akurat dan efektif kepada warga.
“RT dan RW adalah simpul terdekat dengan masyarakat. Banyak program pemerintah akan berjalan efektif apabila informasi tersampaikan dengan baik melalui mereka. Karena itu, pembekalan semacam ini penting untuk memperkuat pemahaman, soliditas, dan kesamaan langkah dalam melayani masyarakat,” kata Abdul Azis Muh Ridwan.
Dalam kesempatan yang sama, Pemerintah Kalurahan Margorejo juga resmi mengukuhkan paguyuban RT dan RW bernama “RUJAKPOLLO”. Wadah ini dibentuk agar para pengurus kewilayahan memiliki ruang koordinasi yang lebih terintegrasi untuk saling bertukar solusi dalam menghadapi dinamika di wilayah masing-masing. Abdul Azis berharap dengan adanya paguyuban ini, para pengurus tidak lagi berjalan sendiri-sendiri dalam menjalankan misi kemanusiaan dan pelayanan.
Selain penguatan organisasi, para peserta juga dibekali informasi mengenai transformasi digital melalui Identitas Kependudukan Digital (IKD) serta program Lukadesi atau Keluarga Berduka Desa Siaga. Program Lukadesi diperkenalkan untuk memperkuat kepedulian sosial, di mana desa hadir mendampingi warga yang tengah berduka, sehingga pelayanan tidak hanya menyentuh aspek birokrasi tetapi juga sisi kemanusiaan.
Melalui penguatan sumber daya sosial ini, Margorejo menunjukkan bahwa pembangunan desa yang berkelanjutan berakar pada apresiasi terhadap aktor-aktor pelayanan di tingkat paling bawah. Dengan lingkungan yang tertata dan aparatur yang dihargai, diharapkan tercipta ketahanan sosial yang kuat di seluruh wilayah Margorejo. (SBD/KIM Senyum Tempel)


