Sleman — Pelayanan kesehatan dasar di Padukuhan Rejosari, Kalurahan Jogotirto, Kapanewon Berbah, kini mulai diarahkan menuju transformasi digital. Dalam pemeriksaan rutin bulanan yang digelar di rumah Dukuh Rejosari pada Sabtu (14/3/2026), para kader Posyandu Anggrek mendapatkan pendampingan khusus dari mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Respati Yogyakarta (Unriyo) untuk mengoptimalkan pencatatan data kesehatan masyarakat.
Petugas Promosi Kesehatan Puskesmas Berbah, Dedeh Kurniasih, menekankan pentingnya migrasi sistem pelaporan dari manual ke aplikasi digital. Langkah ini diambil guna memastikan integritas data kesehatan balita dan lansia agar lebih ringkas, aman, dan mudah diakses saat dibutuhkan. Meski demikian, ia mengakui adanya tantangan besar dalam transformasi ini, terutama bagi kader senior yang membutuhkan waktu lebih untuk beradaptasi dengan teknologi.
“Data menjadi lebih ringkas dan tidak akan hilang selama aplikasi terjaga dengan baik. Selain itu, pencarian data lama akan jauh lebih mudah ketika diperlukan untuk keperluan medis maupun kebijakan. Nantinya, kami akan mengadakan bimbingan teknis khusus tentang penggunaan aplikasi digital pelaporan posyandu ini agar seluruh kader semakin mahir,” ujar Dedeh Kurniasih saat memantau jalannya pemeriksaan.
Ketua Kader Posyandu Anggrek, Yantini, menyambut positif inovasi tersebut, namun ia berharap ada regenerasi kader muda untuk membantu kelancaran digitalisasi ini. Kehadiran 16 mahasiswa KKN Unriyo Kelompok KKB 18A di tengah warga dinilai menjadi jembatan awal yang sangat membantu proses transfer ilmu teknologi kepada para kader di tingkat padukuhan.
“Transformasi digital memang menjadi kesulitan tersendiri bagi kader yang masih gagap teknologi, sehingga kami sangat berharap ada kader-kader muda yang bersedia bergabung dalam kegiatan sosial ini. Adanya pendampingan dari mahasiswa KKN saat ini sangat membantu, namun kami berharap kerja sama ini berkesinambungan melalui program kampus yang berkelanjutan, tidak hanya berhenti saat masa KKN berakhir,” ungkap Yantini.
Ketua KKN Unriyo KKB 18A Rejosari, Egi Sahputra Rio, menjelaskan bahwa timnya bergerak cepat mengolah data di lapangan sejak awal Maret untuk menyusun program kerja yang tepat sasaran. Selain fokus pada pendampingan posyandu, kelompoknya juga menitikberatkan pada program Komunitas Keluarga Bencana (KKB). Hal ini didasari oleh letak geografis wilayah Berbah yang berada di jalur rawan gempa bumi karena kedekatannya dengan Sesar Opak.
Rencana program yang akan dilaksanakan mencakup berbagai lapisan usia, mulai dari pemeriksaan kondisi balita yang dimeriahkan dengan lomba fashion show, senam dan pemeriksaan kesehatan lansia, hingga pelatihan pemeriksaan kanker payudara mandiri bagi remaja. Tim KKN juga menjadwalkan pelatihan mitigasi bencana sebagai bentuk kesiapsiagaan menghadapi potensi kerawanan wilayah.
“Kami melakukan pendataan secara cepat agar program yang diajukan benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat Rejosari. Melalui kolaborasi dengan dukuh, kader, dan warga, kami ingin membekali remaja dengan kemampuan mitigasi bencana sekaligus mengajak semua warga berpartisipasi aktif dalam pengecekan kesehatan rutin,” jelas Egi Sahputra Rio. (Kusnadi/KIM Berbah)


