Sleman – Di pinggiran utara Yogyakarta, tepatnya di wilayah Sendari, denyut industri kerajinan bambu masih bertahan di tengah arus modernisasi. Sejak 1975, kawasan ini dikenal sebagai sentra mebel bambu yang pernah berjaya hingga menembus pasar internasional. Kini, di balik deretan kios dan anyaman bambu yang tertata rapi, tersimpan kegelisahan tentang identitas dan masa depan.
Berada di Kalurahan Tirtoadi, Kapanewon Mlati, Sentra Industri Mebel Bambu “Bambu Indah” menjadi etalase utama karya para pengrajin. Tidak kurang dari 50 pengrajin masih bertahan di kawasan ini. Berbagai produk ditawarkan, mulai dari meja kursi, lincak, hingga kerajinan anyaman seperti kap lampu dan tudung saji.
Ketua Paguyuban Pengrajin Bambu Sendari, Radiyono menjelaskan bahwa produk asli khas Sendari sejatinya adalah mebel bambu. Namun, seiring perkembangan pasar, para pelaku usaha juga memajang produk anyaman dari luar daerah.
“Sebenarnya yang asli buatan pengrajin Sendari adalah mebel berupa meja kursi dan lincak. Namun dalam perkembangannya, kios Sendari juga memajang kerajinan anyaman bambu dari luar Sendari,” jelasnya, Rabu (1/4/2026).
Menurutnya, fleksibilitas menjadi kunci keberlangsungan usaha. Para pengrajin kini tidak hanya mengandalkan produk khas, tetapi juga menyesuaikan dengan permintaan konsumen.
“Pengrajin juga sering mendapat order sesuai dengan keinginan dari pembeli,” imbuh Radiyono.
Dalam hal bahan baku, kualitas tetap menjadi prioritas. Bambu didatangkan dari berbagai daerah seperti Kulonprogo, Cangkringan, Turi, Pakem, hingga Purworejo. Dari sejumlah sumber tersebut, bambu asal Purworejo dinilai paling memenuhi spesifikasi karena karakteristiknya yang keras, lentur, tebal, dan memiliki ukuran yang sesuai.
Secara geografis, Sendari memiliki potensi strategis. Lokasinya berada di jalur penghubung Godean–Cebongan dan berdekatan dengan destinasi wisata Embung Senja. Namun demikian, potensi tersebut belum mampu mengangkat Sendari sebagai ikon wisata di wilayah Mlati.
Radiyono menyebutkan, Mlati sebenarnya memiliki tiga kawasan potensial untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata terpadu, yakni Janturan dengan wisata budaya, Sendari dengan industri bambu, serta Ketingan dengan wisata burung kuntul.
Ia berharap ada event yang mampu mengintegrasikan ketiga kawasan tersebut.
Berbagai upaya pengembangan telah dilakukan, mulai dari pelatihan desain hingga pendampingan pemasaran oleh pemerintah dan perguruan tinggi. Namun hasilnya dinilai belum signifikan. Salah satu kendala utama justru berasal dari internal paguyuban.
“Sebagai paguyuban pengrajin bambu, Bambu Indah sendiri belum bisa berkoordinasi dengan sesama anggota. Kami diwadahi tapi berjalan sendiri-sendiri,” tutur Radiyono.
Selain itu, keterbatasan tenaga terampil dan ruang produksi juga menjadi tantangan serius. Untuk itu, ia berharap adanya langkah konkret dalam regenerasi pengrajin, salah satunya melalui pendidikan.
“Harapannya, mata pelajaran kerajinan ini masuk dalam kurikulum sekolah sehingga bisa menjawab persoalan tenaga skill yang berkurang,” ujarnya.
Harapan tersebut berangkat dari sejarah panjang kejayaan Sendari. Produk bambu dari kawasan ini pernah menembus pasar ekspor ke berbagai negara seperti Australia, Prancis, Belanda, hingga Suriname.
Kini, di tengah persaingan dan perubahan zaman, Sendari seakan tengah mencari kembali jati dirinya, antara mempertahankan tradisi dan beradaptasi dengan kebutuhan pasar modern. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)


