Sleman — Upaya penguatan karakter bangsa melalui literasi keagamaan terus digencarkan di tingkat akar rumput Kabupaten Sleman. Salah satu sosok yang konsisten dalam misi ini adalah Sri Rahayu, yang memusatkan kegiatan pendidikannya di Mushala Baitul Muhtadin, Sambilegi Kidul, Maguwoharjo, Kapanewon Depok. Ia mengintegrasikan ketepatan kaidah bacaan Al-Qur’an dengan pendekatan kasih sayang yang sistematis bagi anak-anak usia dini hingga sekolah dasar.
Sejak tahun 2022, Sri Rahayu mengimplementasikan metode Ummi sebagai instrumen strategis dalam proses transformasi ilmu. Penggunaan metodologi ini didasarkan pada kesadaran akan pentingnya manajemen mutu dan kualifikasi pendidik yang mumpuni. Pendekatan “bahasa ibu” yang diterapkan menitikberatkan pada praktik langsung dan repetisi, yang secara efektif mampu menjembatani kurikulum terstruktur dengan kebutuhan psikologis santri dalam rentang usia empat hingga dua belas tahun.
Fokus utama pengabdian ini adalah menciptakan ekosistem pendidikan Al-Qur’an yang tidak hanya mengutamakan kelancaran lisan, namun juga kedalaman adab. Sri Rahayu memandang bahwa setiap hukum tajwid yang dipelajari dengan benar merupakan langkah taktis untuk melatih keteraturan berpikir dan bertindak bagi para santri sejak dini.
“Pendidikan Al-Qur’an adalah fondasi integritas; setiap hukum tajwid yang benar merupakan langkah taktis menuju keteraturan berpikir dan bertindak. Komitmen kami bukan sekadar mencetak individu yang mampu membaca, melainkan membentuk pribadi yang sanggup memuliakan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup dalam keseharian mereka,” ujar Sri Rahayu pada Rabu (8/4/2026).
Sebagai anggota Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) Depok Raya, Sri Rahayu memposisikan literasi Al-Qur’an sebagai bagian vital dari pembangunan sumber daya manusia di daerah. Kontribusi nyatanya terlihat pada peningkatan ketelitian santri dalam memahami hukum bacaan yang kompleks serta penguatan disiplin sosial di lingkungan masyarakat Sambilegi Kidul.
Konsistensi dalam menjaga standar kualitas pendidikan ini memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan minat baca Al-Qur’an di Kabupaten Sleman. Kedisiplinan dalam menerapkan kaidah ilmu tajwid menjadi cerminan dari tanggung jawab profesional untuk mencetak generasi yang cerdas dan fasih. Sri Rahayu membuktikan bahwa sinergi antara metode yang kuat dan integritas pengajar adalah kunci utama dalam menciptakan pembelajaran yang aktif dan motivatif.
Sri Rahayu menegaskan bahwa visi pendidikan yang jauh ke depan dan ketulusan pengabdian merupakan pilar utama dalam membangun fondasi spiritualitas bangsa yang kokoh. Baginya, standarisasi dalam pendidikan informal adalah prasyarat mutlak agar kualitas lulusan yang dihasilkan benar-benar mumpuni dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Pengabdian ini menjadi bukti bahwa standarisasi kualitas dalam pendidikan informal adalah prasyarat mutlak bagi lahirnya generasi Qur’ani yang berkualitas di masa depan. Kita harus memberikan yang terbaik karena yang kita bangun adalah fondasi spiritualitas bangsa,” pungkasnya. (Athiful/KIM Depok)


