Sleman — Bupati Kabupaten Sleman, Harda Kiswaya, meresmikan Masjid Baitul Makmur yang berlokasi di Dusun Karang Kalasan, Kalurahan Tirtomartani, Kapanewon Kalasan, Sabtu (11/4/2026).
Peresmian yang berlangsung di kompleks Masjid Baitul Makmur Karang Kalasan tersebut menandai selesainya pembangunan masjid pengganti dari Masjid Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila (YAMP) yang terdampak proyek pembangunan jalan tol Jogja–Solo. Masjid lama harus direlokasi dan kini berdiri di lokasi baru yang berjarak sekitar 300 meter dari titik sebelumnya.
Ketua panitia, Sarjono, menjelaskan bahwa masjid baru dibangun dengan ukuran yang sama, yakni 17 x 17 meter persegi. Selain itu, dilakukan pula pengadaan lahan yang jauh lebih luas, mencapai 8.900 meter persegi atau hampir satu hektare. “Hal ini menjadikan masjid sangat strategis untuk pengembangan ke depan,” ujarnya.
Wakil Ketua YAMP Pusat, Issantoso, menyampaikan bahwa secara nasional terdapat 999 masjid YAMP yang tersebar di seluruh Indonesia. Ia menambahkan, terdapat dua masjid YAMP yang terdampak pembangunan jalan tol, yakni di Riau dan Yogyakarta, dan keduanya telah dibangun kembali sesuai ketentuan yang berlaku.
“Walaupun bangunannya berbeda, ciri khas YAMP seperti kubah dengan tulisan Allah dalam kotak segilima serta prasasti bertanda tangan Presiden RI ke-2 Soeharto tetap dipertahankan,” jelasnya. Ia juga menyebutkan bahwa di wilayah Yogyakarta terdapat 25 masjid YAMP, dengan 11 di antaranya berada di Sleman.
Sementara itu, Ketua Yayasan Ukhuwah Islamiyah mengungkapkan bahwa luas lahan yang kini mencapai lebih dari dua kali lipat dari sebelumnya membuka peluang pengembangan masjid menjadi pusat kegiatan keislaman. “Ke depan diharapkan menjadi masjid ramah musafir sekaligus Islamic Center Kalasan karena letaknya yang strategis di jalur utama Kalasan–Cangkringan,” ujarnya.
Dalam sambutannya, Bupati Harda Kiswaya menyampaikan apresiasi atas kerja sama berbagai pihak, termasuk pihak pengembang jalan tol, dalam menghadirkan masjid yang lebih representatif. Ia berharap masyarakat dapat menjaga dan memakmurkan masjid tersebut.
“Masjid ini sudah dibangun dengan baik dan memiliki lahan yang luas. Mari kita rawat bersama. Para takmir diharapkan dapat menjalankan amanah dengan baik agar masjid ini tetap aman, nyaman, dan menjadi pusat kegiatan ibadah,” tuturnya.
Senada dengan itu, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama DIY juga mengajak masyarakat untuk memanfaatkan masjid secara optimal, seiring dengan luas lahan yang telah diperjuangkan dengan maksimal.
Dalam tausiah singkatnya, Bang Cooy mengingatkan bahwa membangun masjid bukanlah hal yang paling sulit, melainkan menjaga dan merawatnya. Ia juga menekankan pentingnya pengelolaan masjid yang transparan dan akuntabel agar terhindar dari konflik internal.
Rangkaian acara ditutup dengan prosesi peresmian yang ditandai dengan pengguntingan pita di pintu utama masjid, dilanjutkan dengan memasuki area masjid untuk mulai dimanfaatkan sebagai tempat ibadah dan kegiatan keagamaan lainnya. (Srp / KIM Ngaglik)


