Seni Religius Didorong Jadi Magnet Wisata dan Kekuatan Budaya Mandiri

Sleman — Paguyuban Seni Religius (PASER) Kabupaten Sleman merayakan milad ke-13 yang dirangkaikan dengan acara Syawalan di Aula Kalurahan Sukoharjo, Kapanewon Ngaglik, Sabtu (18/4/2026). Momentum ini menjadi ajang refleksi bagi para pelaku seni religius untuk menjawab tantangan zaman, terutama dalam memperkuat posisi seni berbasis nilai agama di tengah dinamika pariwisata dan budaya modern.

Pembina PASER, Sancoko, mengungkapkan bahwa meskipun seni religius sempat menghadapi tantangan persepsi di masyarakat, saat ini perkembangannya menunjukkan tren positif. Seni religi kini mulai dilirik sebagai daya tarik wisata yang mampu memikat wisatawan domestik maupun mancanegara di berbagai destinasi unggulan di Kabupaten Sleman.

“Kesenian PASER itu religius, namun terkadang masih terkurung oleh anggapan-anggapan yang kurang pas. Meski begitu, perkembangannya sekarang jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Sekarang PASER sudah dimanfaatkan untuk menarik wisatawan di berbagai destinasi. Artinya, seni religius ini punya daya tarik yang kuat jika dikemas dengan baik,” ujar Sancoko di sela-sela acara.

Sancoko juga menyoroti potensi besar PASER mengingat jumlah kelompoknya yang paling banyak di Kabupaten Sleman. Namun, ia menyayangkan ruang ekspresi bagi para seniman religi ini masih tergolong terbatas dibandingkan jenis kesenian lainnya. Oleh karena itu, diperlukan langkah pembinaan yang lebih terstruktur dan revisi dalam pola pengemasan seni agar semakin dicintai dan digemari oleh masyarakat luas.

Dukungan pemerintah daerah mulai terlihat nyata dengan adanya alokasi anggaran sebesar Rp1,2 miliar untuk pengembangan sektor seni budaya, di mana 26 kelompok seni kini berada di bawah pembinaan intensif. Sancoko berharap suntikan dana dan pembinaan tersebut dapat memicu kemandirian setiap kelompok sehingga seni tidak hanya menjadi warisan, tetapi juga motor penggerak ekonomi.

“Harapannya, seluruh kelompok seni bisa hidup mandiri dan ikut menghidupi Sleman sebagai kota budaya, wisata, pelajar, dan industri. Kami ingin seni tidak hanya sekadar dilestarikan, tetapi juga diberdayakan dan dimasyarakatkan secara luas agar para pelakunya tidak hanya menjadi penonton di rumah sendiri,” tegasnya.

Terkait keberlanjutan, regenerasi menjadi fokus utama yang sedang digarap oleh PASER. Sancoko menekankan pentingnya sinergi dengan dunia pendidikan untuk mengenalkan seni religius sejak usia dini. Ia meyakini jika apresiasi budaya dimulai dari jenjang PAUD hingga sekolah menengah, Sleman akan memiliki fondasi budaya yang sangat kuat dan berdaya saing global. (SBD/KIM Senyum Tempel)

image_pdfimage_print
Bagikan: