Sleman — Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sleman terus memperluas jangkauan literasi hingga ke tingkat akar rumput melalui layanan Motor Perpustakaan Keliling. Kendaraan roda tiga yang telah dimodifikasi menjadi motor boks ini menjadi ujung tombak pemerintah daerah dalam menyediakan akses bacaan bagi warga dan anak-anak, terutama di wilayah yang sulit dijangkau mobil perpustakaan besar.
Motor perpustakaan ini didesain khusus dengan rak buku yang tersusun rapi di dalam boks yang dapat dibuka dari sisi kiri dan kanan. Pintu boks yang membuka ke arah atas juga berfungsi sebagai peneduh bagi para pembaca. Meski menyediakan ratusan judul buku untuk berbagai kalangan usia, mayoritas koleksi yang dibawa adalah buku bacaan anak-anak guna merangsang minat baca sejak dini.
Petugas operasional Motor Perpustakaan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sleman, Karyanto, menjelaskan bahwa layanan ini hadir untuk memberikan kemudahan bagi siapa saja yang ingin menambah wawasan. Saat menggelar lapak baca pada kegiatan Pasar Bersama di komplek Lapangan Pemda Sleman, Jumat (17/4/2026), ia menegaskan bahwa koleksi tersebut dapat dinikmati di tempat secara gratis.
“Semua buku ini kami sediakan untuk masyarakat dan boleh dibaca oleh siapa pun di lokasi. Namun, untuk menjaga ketersediaan koleksi bagi lokasi selanjutnya, buku-buku ini memang tidak diperbolehkan untuk dibawa pulang atau dipinjam,” ujar Karyanto di sela aktivitasnya melayani pembaca.
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sleman saat ini mengoperasikan tiga unit motor perpustakaan untuk melayani sekolah dan pemukiman warga di seluruh Kabupaten Sleman. Setiap harinya, motor-motor ini bergerak secara dinamis menuju titik yang telah ditentukan, di mana satu unit motor ditargetkan mampu melayani dua lokasi berbeda dalam satu hari kerja.
Selain sekadar menyediakan buku, motor ini memikul misi besar dalam program Cerita dan Dongeng Literasi Masuk Berinteraksi di Sekolah atau yang dikenal dengan inovasi Cendolmanis. Program yang diluncurkan sejak awal 2024 ini bertujuan meningkatkan budaya literasi anak usia dini melalui pendekatan yang menyenangkan, yakni dengan menggandeng pendongeng handal untuk menyampaikan pesan-pesan moral kepada siswa.
Karyanto menambahkan bahwa kehadiran motor dengan bentuk yang unik tersebut sering kali menjadi daya tarik tersendiri yang memicu antusiasme anak-anak untuk mendekat dan mulai membuka buku. Baginya, pekerjaan ini bukan sekadar rutinitas untuk mencari nafkah, melainkan sebuah pengabdian untuk menyiapkan generasi masa depan yang berwawasan luas.
“Penggunaan motor perpustakaan keliling ini terbukti efektif menarik perhatian anak-anak untuk mau membaca. Saya merasa bangga bisa membantu anak-anak meningkatkan literasi mereka dan ikut serta menyiapkan generasi emas. Semoga tugas pelayanan ini tidak hanya bermanfaat bagi warga, tetapi juga tercatat sebagai amal kebaikan,” pungkas Karyanto. (Kusnadi/KIM Berbah)


