Optimalkan TPST Sendangsari, Pemkab Sleman Dorong Pengolahan Sampah Menjadi Bahan Bakar Alternatif

Sleman — Di tengah tantangan besar pengelolaan sampah yang mencapai 300 ton per hari, Kabupaten Sleman mulai menunjukkan titik terang melalui operasional Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Sendangsari. Fasilitas ini tidak sekadar menjadi tempat pembuangan akhir, melainkan pusat transformasi limbah menjadi peluang ekonomi melalui teknologi Refuse Derived Fuel (RDF).

Di lokasi ini, sampah melewati serangkaian proses mulai dari pemilahan antara sampah kering dan basah, pencacahan, hingga pengemasan menjadi RDF organik maupun anorganik. Produk hasil olahan ini memiliki nilai guna tinggi, di mana RDF anorganik plastik dapat diolah kembali menjadi bahan baku produk non-pangan, sementara RDF organik diproyeksikan menjadi pupuk kompos dan pakan ternak.

Ketua Tim Kerja Pengelolaan Persampahan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman, Fitasari Ayu Wardani, menjelaskan bahwa pengembangan teknologi ini merupakan langkah strategis untuk mengurangi beban lingkungan sekaligus membuka potensi pendapatan daerah. Hal tersebut ia sampaikan saat mendampingi petugas pendamping lapangan di sektor Barat, Senin (27/4/2026).

“RDF anorganik plastik masih bisa diolah lagi menjadi bahan baku produk kebutuhan sehari-hari, sedangkan RDF organik bisa menjadi pupuk kompos penyubur lahan tanaman petani atau pakan hewan pengurai yang muaranya menjadi pakan ternak. Potensi ekonomi dari limbah ini sangat besar jika dikelola secara konsisten,” ujar Fitasari Ayu Wardani.

Meski memiliki kapasitas maksimal hingga 60 ton per hari, saat ini TPST Sendangsari baru mengolah sekitar 20 hingga 25 ton sampah. Kendala utama yang dihadapi adalah kondisi sampah yang masuk masih dalam keadaan tercampur. Pihak pengelola menekankan bahwa partisipasi masyarakat dalam memilah sampah sejak dari rumah sangat menentukan kualitas hasil akhir pengolahan.

“Proses pengolahan akan jauh lebih optimal dan berkualitas jika sampah yang masuk ke TPST sudah dalam kondisi terpilah antara organik dan anorganik dari sumbernya. Hal ini juga membantu mengurangi polusi bau yang disebabkan oleh sampah organik yang membusuk dalam tumpukan sampah campuran,” jelas Fitasari saat meninjau instalasi pengendali bau di lokasi.

Selain aspek teknologi, TPST Sendangsari juga berperan dalam pemberdayaan ekonomi lokal dengan menyerap tenaga kerja dari warga sekitar. Fasilitas ini juga menjalin kolaborasi strategis dengan pihak swasta, seperti PT Solusi Bangun Indonesia (SBI), untuk mengolah sampah perkotaan menjadi bahan bakar alternatif bagi industri semen.

Ke depan, Pemerintah Kabupaten Sleman berencana meningkatkan kapasitas teknologi dengan penambahan alat pemilah otomatis dan optimalisasi Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Upaya ini diharapkan dapat mempercepat ambisi Sleman dalam menuntaskan masalah sampah melalui sistem yang terintegrasi, mulai dari pemilahan di rumah tangga hingga pemanfaatan teknologi tinggi di tingkat akhir. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)

image_pdfimage_print
Bagikan: